KEMPALAN: Mahasiswa tidak pernah kehabisan ide untuk menyalurkan kritiknya kepada kekuasaan. Beberapa waktu yang lalu Presiden Jokowi dijuluki sebagai ‘’King of Lips Service’’, lalu Wapres Ma’ruf Amin dijuluki ‘’The King of Silence’’, dan Ketua DPR RI Puan Maharani sebagai ‘’The Queen of Ghosting’’.
Kali ini mahasiswa Universitas Mulawarman (Unmul), Samarinda, menyebut Wapres Ma’ruf Amin sebagai ‘’Patung Istana Merdeka’’ dalam sebuah poster digital yang viral di media sosial beberapa hari ini.
Kasus ini menjadi semakin viral karena Presiden BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Unmul, Abdul Muhammad Rachiem dibully oleh banyak netizen dan menjadi korban doxing dan menerima berbagai ancaman. Polres Samarinda juga memanggil Rachiem untuk diperiksa dan diklarifikasi.
Kasusnya mirip dengan yang terjadi dengan BEM Universitas Indonesia (UI) yang beberapa waktu yang lalu menjuluki Jokowi sebagai The King of Lips Service. Kali ini otoritas Unmul juga memaksa mahasiswa mencabut unggahan itu dan meminta maaf kepada wapres.
Tindakan polisi Samarinda itu memantik reaksi keras dari berbagai kalangan. Isu ini kemudian berkembang luas menjadi isu politik. Partai Demokrat membela mahasiswa BEM dengan mengatakan bahwa penyebutan wapres patung sama saja dengan penyebutan wapres ban serep yang selama ini sudah menjadi kosa kata politik umum.
Sebutan ban serep itu sudah dianggap lazim sehingga publik menganggapnya bukan sesuatu yang merendahkan. Bahkan, Wapres Boediono yang menjadi wakil SBY pada periode 2009-2014 dengan terang mengatakan bahwa jabatan wapres yang disandangnya selama lima tahun tidak lebih dari jabatan ban serep.
Sebutan ban serep mempunyai makna konotatif yang kurang mengenakkan. Ban serep hanya disimpan di bagasi dan hanya dikeluarkan sesekali jika ban utama kempes atau bocor. Itu pun hanya dipakai sementara saja. Kalau ban utama sudah diperbaiki maka ban serep akan kembali masuk ke bagasi.
Ban serep juga punya kualitas yang lebih rendah dari ban utama. Kalau ban utama tidak pernah bocor atau kempes maka ban serep akan tetap berada di bagasi, tidak disentuh dan akhirnya semua orang akan melupakannya.
Boediono bukan orang sembarangan. Dia seorang profesor ekonomi jempolan lulusan University of California, Berkeley, Amerika Serikat. Boediono sering disebut sebagai ‘’godfather’’ mafia Berkeley menggantikan posisi Widjojo Nitisastro yang menjadi godfather Mafia Berkeley di masa pemerintahan Presiden Soeharto.
Sebutan Mafia Berkeley melekat kepada para arsitek ekonomi Orde Baru seperi Ali Wardhana, B.J Sumarlin, Emil Salim, dan ekonom seangkatan mereka yang berpusat di UI di bawah pimpinan Widjojo Nitisastro sebagai ‘’the godfather’’.
Mereka adalah para ekonom yang mengikuti mazhab neo-liberal yang sangat pro-pasar dan sangat dekat dengan Amerika. Di bawah kebijakan tim Mafia Berkeley ini ekonoi Orde Baru tumbuh dengan konsisten rata-rata 7 persen setiap tahun dan menempatkan Indonesia sebagai salah satu Macan Asia.
Tapi kemudian keberhasilan ekonomi Indonesia seperti tersapu angin karena krisis moneter pada 1998. Rezim Soeharto kehilangan dukungan dari Amerika dan akhirnya jatuh setelah berkuasa selama 32 tahun.
Sepeninggalan Widjojo, tongkat estafet Mafia Berkeley beralih kepada Boediono yang dianggap sebagai ‘’the new godfather’’. Anak-anak didik Boediono seperti Sri Mulyani Indrawati, Chatib Basri, Raden Pardede, dan beberapa lainnya mendapatkan posisi strategis pada kabinet SBY.
Pada periode kedua kepemimpinan SBY, Boediono kemudian diangkat sebagai wakil presiden. SBY sangat pede dalam pilpres 2014 sehingga berani menyingkirkan Jusuf Kalla (JK) yang sebelumnya menjadi wapres. JK kemudian maju sebagai capres menggandeng Wiranto tapi kalah oleh pasangan SBY-Boediono.
Sebagai wapres sekaligus…

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi