Mendengarkan gaya bicaranya yang ‘Sunda banget’, saya mengira Pak Ali asli dari desa itu. Ternyata dugaan saya meleset. Pak Ali ternyata ‘Urang Awak’. Asli. Lahirnya pun di Sumatera Barat. Di sebuah Nagari yang diapit dua gunung: Merapi dan Singgalang.
Sejak usia 12 tahun Pak Ali mengikuti kedua orang tuanya merantau ke Tanah Sunda. Setelah berkeluarga, ia menetap di desa Sari Reja yang sejuk pada ketinggian 870 meter di atas permukaan laut.
Sebagai pengingat kampung halaman, Pak Ali menggunakan nama Singgalang sebagai nama koperasi warga desa yang dipimpinnya. Singgalang satu-satunya kosa kata ‘berbau Sumatera’ di desa penghasil nanas paling kondang se-Jawa Barat itu.
Rumah Pak Ali sebenarnya tidak terlalu luas. Beberapa bangunan yang baru berdiri di pekarangan kanan dan kiri terkesan membuat rumah itu kian sempit saja. Di sebelah kiri ada bangunan dengan tiga fungsi: Rumah diesel, ruang pamer dan mushola. Di sebelah kanan ada ruang pintal serat nanas sekaligus penenunan dan pabrik pembuat keripik nanas.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi