Meski bertekstur kasar, saya menyukainya. Kain serat nanas itu mengingatkan saya waktu masih tinggal di Palu, Sulawesi Tengah, pada tahun 1993 – 1999.
Saya pernah mendapat kenang-kenangan seorang sahabat: Tas yang dibuat dari kain tenun tradisional. Bahan bakunya kulit pohon. Saya lupa namanya. Warnanya coklat tua. Konon buatan suku Wana yang terasing di tengah hutan sekitar antara Poso – Ampana.
Mengamati kain tenun serat nanas itu, saya jadi penasaran: Seperti apa proses pembuatannya sejak berbentuk daun hingga menjadi selembar kain.
Rasa penasaran itu terjawab dua jam kemudian, setelah tiba di sebuah rumah mungil yang cantik milik Pak Ali di pelosok Kabupaten Subang. Tepatnya di desa Sarireja. Desa yang dikeliling dua perkebunan: Kebun teh di satu sisi. Kebun nanas di sisi lainnya. Selebihnya: hutan produktif.
Pak Ali adalah tokoh lokal yang menjadi penggerak gerakan pemberdayaan ekonomi warga desa. Jabatan resminya ketua rukun warga. Ia menjadi ‘’jembatan’’ antara warga desa dengan berbagai pihak yang berkepentingan dengan program pemberdayaan ekonomi.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi