Kamis, 9 Juli 2026, pukul : 07:34 WIB
Surabaya
--°C

Inferiority Complex, Pelaku Meme Iriana Jokowi

“Baik, Nyonya.”

Maka heboh. Viral luar biasa. Mengglobal-internasional. Akhirnya unggahan dihapus si pengunggah sendiri, di hari itu juga. Disusul kemudian, permintaan maaf.

Kalbu kita terkocok otomatis. Morat-marit. Antara karya kita menakjubkan para tokoh internasional, dengan karya orang kita sendiri, yang rendah diri.

Rendah diri, dalam psikologi disebut Inferiority Complex. Bukan penyakit. Melainkan kondisi jiwa, berupa perasaan tidak mampu, rendah, kalah, bahkan hina, yang intens. Bersifat kronis.

BACA JUGA: Sekeluarga Tapa Brata di Kalideres

Alfred Adler dalam bukunya: “The Science of Living” (Routledge, 2013) menyebutkan, perasaan rendah diri disebabkan pola didik anak saat balita, yang membuat si balita merasa selalu kalah. Misal, selalu kalah dibanding dengan saudara. Atau selalu diperlakukan buruk oleh teman sebaya. Atau oleh cerita-cerita ortu, bahwa keluarga mereka memang rendahan dibanding masyarakat.

BACA JUGA  Kamu Bahagia, Narsisis Terluka

Pengalaman masa kecil itu mengendap di otak bawah sadar. Menggumpal jadi memori. Menghasilkan Inferiority Complex.

Alfred Adler lahir di Wina, Austria, 7 Februari 1870, meninggal di Aberdeen, Britania Raya, 28 Mei 1937. Psikolog Universitas Wina, yang melahirkan teori itu pada 1900.

Belasan tahun kemudian, Cambridge Dictionary of Psychology menyebut sebagai: Adlerian Psychology. Atau, Bapak Teori Inferiority Complex. Ilmu ini dipelajari di Fakultas Psikologi hingga kini. Terutama di pasca-sarjana.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.