Johannes Kitono
Kenapa spesialisasi Kulit selalu dikaitkan dengan Kelamin ? Tentu akan bikin risih dokter wanita yang mau spesialisasi Kulit tapi wajib pelajari penyakit kelamin pria. Tujuan pemerintah bangun RS Vertikal dengan peralatan modern memang bagus dan harus didukung. Tapi inti permasalahan bukan disana. Cukup banyak dokter dan profesor top yang handal di Indonesia. Belum lagi dokter dokter Indonesia tamatan Luar Negeri yang antri dan mau mengabdi di Indonesia. Tapi tidak bisa masuk. Kendalanya di birokrasi pemerintah atau Depkes. Akibatnya,setiap tahun pasien Indonesia bayar Rp.100 trilyun untuk RS Singopore, Penang dan Sarawak saja. Pengalaman General check up di Sarawak hanya RM.800,- atau sekitar Rp.2,5 juta dan satu hari selesai incl konsultasi dengan Cardiolognya. Pasien yang mau operasi tulang bisa dijemput Ambulans RS di Bandara. Silahkan bandingkan ser vicenya dengan di RS Jakarta. Saran untuk Menkes. Perbaiki Managemen Rumah Sakit supaya lebih ramah sama pasien. Jangan menghambat Prodi Specialisasi di FK. Apalagi lulusan LN yang kuliah pakai biaya sendiri dan mau pulang mengabdi di Indonesia.
Sama Konomaharu
Saya akan lihat dari sisi bisnis saja. Katakanlah saya pemilik perusahaan farmasi yang sudah mencetak beberapa obat. Artinya harus laku. Dengan alasan debt equity rasio, balik modal setelah sekolah, balik modal dari penelitian, dst. Apapun, alasan harus di buat. Karena ini membahas bisnis. Lalu, apa yang akan saya lakukan?. Gampang saja. Gerojok pasien dengan obat, atau apapun. Yang penting kena ROI (Retrun Of Investment). Jadi ingat perusahaan mirip k-link, yang untungnya dari hasil pendaftaran wkwk
Chei Samen
Merujuk karier kedokteran. Ramai dokter di sini adalah lulusan universitas di Indonedia. Untuk lulusan perubatan ini, kami di Malaysia, tidak lupa, sangat berterima kasih kepada negara anda. Sudah sekian ratus mungkin ribuan anak/ lulusan perubatan pulang berkarier di Tanah Air. Hasil dari kerjasama, bantuan dan dididikan lecturer di anda. Harus juga dinyatakan, suasana pembelajaran yang baik, kondusif juga relatif murah (dari pandangan kami) memungkinkan keadaan ini berlaku. Syukurnya, mayoritas mereka dibeasiswa oleh pemerintah. Terima kasih Indonesia.
Jimmy Marta
Apa ya do’a nya penjual kain kafan, batu nisan, supir ambulan dan penggali kubur?

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi