Sejak reformasi telah terjadi sebuah proses deindustrialisasi dimana peran industri mengalami perlambatan. Pendapatan negara semakin didominasi oleh tambang, sawit dan pariwisata menjelang pandemi 2019. Peran ekspor sawit dan batubara makin besar selama dua tahun terkahir. Indonesia menderita penyakit Belanda, terjebak sebagai negara dengan pendapatan menengah karena sangat tergantung pada ekspor komoditi dengan nilai tambah kecil.
Kebijakan perdagangan mendominasi kebijakan industri. Liberalisasi pasar menghambat pendalaman industri sehingga industri galangan kapal, misalnya, masih tergantung banyak pada komponen impor. Sampai hari ini kita gagal membangun industri mobil nasional. Banyak industri domestik saat ini hanya satelit industri China.
Ketergantungan ekspor dan impor oleh kapal2 berbendera asing juga menggerogoti devisa apalagi jika jasa angkutan lautnya harus dibayar dalam USDollar.
Hattanomics
Perubahan iklim dan lansekap ekonomi global serta kemuncukan BRICS, serta kemunduran Barat dan AS, membuka kesempatan besar untuk membangun ekonomi Indonesia dengan platform Hattanomics sekaligus untuk mengimbangi China dengan ambisi imperialnya melalui Belt and Road Initiative-nya.
BACA JUGA: Jas Merah Bung Karno
Revitalisasi Hattanomics mempertemukan Wijoyomics dan Habibienomics di atas platform UUD45 dekrit Presiden 1959. Implementasinya memerlukan kepemimpinan puncak, tidak cukup di level Menteri Keuangan atau Menkomarinvest.
Titik temunya ada pada commerce yang bebas riba dan kelembagaan ekonomi koperasi sebagai perwujudan usaha bersama berasaskan kekeluargaan. Riba merusak asas kekeluargaan ini. Ekonomi yang mendorong keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia hanya mungkin dicapai dengan membebaskan keluarga dan perdagangan dari riba.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi