Jumat, 8 Mei 2026, pukul : 06:18 WIB
Surabaya
--°C

Flying Toilets? Tidak Ada di Surabaya

Davies orang Inggris yang tinggal di Kenya. Ia lulusan Psikologi Filsafat Oxford University, Inggris. Kemudian lulus Fakultas Kedokteran, Queen’s University of Belfast, lulus 1988. Di Kenya ia pakar kesehatan masyarakat.

Di Nairobi, berpenduduk sekitar 3 juta jiwa. Di buku itu disebutkan, bahwa berdasar data resmi pemerintah setempat, sekitar 99 persen penduduk punya jamban. Tapi, Davies yang sudah 21 tahun tinggal di Kenya, punya catatan beda,

Davies di bukunya, mengatakan: “Dua dari tiga orang di Kibera, sehari-hari pelaku toilet terbang. Sebagai cara utama pembuangan kotoran yang tersedia bagi mereka.”

BACA JUGA: Lone Wolf Todong Istana Tanggung Jawab Pendidik

Toilet terbang, artinya warga yang tidak punya jamban bisa BAB di mana saja. Asalkan, output diwadahi kantong plastik. Setelah selesai, kantong plastik diikat. Lalu dilempar ke kali. Bagi yang kurang ajar, bisa dilempar ke pinggir jalan.

Buku Davies diterbitkan 2008. Mungkin sudah kuno. Mungkin saja Kibera sudah tidak begitu lagi, sekarang.

Dikutip dari Aljazeera, 3 April 2017, bertajuk “How to deal with Kibera’s flying toilets?”, hasil liputan wartawan Aljazeera. Ternyata tidak beda dengan tulisan Davies.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.