Rabu, 24 Juni 2026, pukul : 19:41 WIB
Surabaya
--°C

Kudeta

Tidak ada pilihan lain bagi PDIP kecuali harus melirik jago lain yang lebih berpeluang menang. Maka, pada pilpres 2014 dengan berat hati Megawati memberikan tiket gratis kepada Jokowi. Momen inilah yang banyak disebut sebagai ‘’the creeping coup’’ atau ‘’kudeta merangkak’’ yang dialami oleh Megawati. Disebut sebagai kudeta merangkak, karena kudeta itu dilakukan secara mengendap-endap sambil merangkak, sehingga gerakannya tidak terdeteksi.

Kudeta merangkak itu dilakukan Jokowi dengan jalan melakukan kampanye pencitraan yang masif menjelang pemilu presiden. Masa jabatannya yang singkat selama menjadi gubernur DKI Jakarta dimanfaatkan secara maksimal untuk menggalang pencitraan untuk mendongkrak popularitas.

BACA JUGA: Elina dan Pelosi

BACA JUGA  Tren Novel Online: Menantu versus Mertua

Megawati–yang pada waktu itu sebenarnya masih menyimpan keinginan untuk maju lagi—tidak bisa berkutik ketika disodori data-data mengenai elektabilitas Jokowi yang melejit tak terbendung. Tidak ada pilihan lain bagi Megawati kecuali menyerahkan tiket capres kepada Jokowi. Sikap berat hati itu terlihat dari pernyataan Megawati yang menyebut Jokowi sebagai ‘’petugas partai’’. Istilah itu kemudian menjadi kosa kata politik yang sering disebut dalam berbagai kesempatan.

Kali ini Mega sedang menghadapi persoalan yang sama. Kalau pada 2014 Mega seolah tidak menyadari terjadinya kudeta merangkak itu, kali ini Mega menyadari, tetapi tidak bisa menangkalnya secara efektif. Kudeta merangkak kali ini dilakukan oleh Ganjar Pranowo dengan mendapatkan ‘’tacit support’’ dukungan diam-diam dari Jokowi.

BACA JUGA  Topeng Narsistik Makin Lihai Seiring Usia
forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.