Jumat, 8 Mei 2026, pukul : 23:54 WIB
Surabaya
--°C

Mengenang Leo Kristi, Sang Musisi Pengelana sampai Akhir Hayat

SURABAYA-KEMPALAN: Sosok musisi Leo Kristi yang terlahir dengan nama R.Ng. Leo Imam Sukarno pada 8 Agustus 1949, dan kembali kehadiratNya 21 Mei 2017. Sekitar 5 tahun lebih Leo Kristi sarat identitasnya sebagai musisi pengelana yang lebih menikmati karier musiknya di jalanan. Ia tidak seperti rekan-rekannya (sudah almarhum) Gombloh dan Franky Sahilatua yang tergabung dalam.grup “Lemon Trees”memilih istirahat” di satu tempat, meski secara karya, rekan – rekannya itu tetap menyuarakan secara lantang mengenai kondisi alam, cinta dan persoalan sosial.

Leo Kristi setelah memisahkan diri dari Lemon Tree’s, lebih suka tampil dalam konser dengan memakai jubah hitam di atas panggung. Musik merupakan dunia yang dikenalnya sejak kecil. Leo kecil menyimak setiap irama yang dimainkan tiap subuh oleh ayahnya, Raden Ngabei Iman Soebiantoro, seorang pensiunan pegawai negeri yang juga merupakan seorang musisi.

Sejak kecil, Leo Kristi aktif dalam kegiatan menyanyi di gereja, sebagai bagian dari kegiatan sekolah dasarnya, kendatipun ia sendiri muslim. Leo waktu itu sekolah di SD Kristen Surabaya pada 1961. Bagi Leo, musik baginya sahabat, menyambut nyanyian sebagai kecintaan.

BACA JUGA: Catatan Lawas Malsalis dan Langkah Warumas

Bagaimana Leo Kristi di SMP? Ketika di jenjang SMP ia mendapat sebuah gitar dari ayahnya. Lalu, ia masuk kursus Tony Kerdijk, Direktur Sekolah Musik Rakyat di Surabaya. Guna mengasah vokalnya ia belajar pada Nuri Hidayat dan John Garang.

Pria murah senyum ini juga pernah kursus gitar pada Poei Sing Gwan dan Tan Ek Tjoan. Dua gitaris yang diakuinya cukup memberi pengaruh pada musiknya. Pada waktu di SMAN 1 Surabaya, ia tidak lepas dari kewajiban berbaris dan ikut menyanyikan lagu-lagu perjuangan di bawah Tugu Pahlawan.

Leo juga bergabung dalam band sekolah beraliran rock n’ roll bernama “Batara” yang beranggotakan teman-temannya dari SMA, Ratno, Karim, Soen Ing, John Kotelawala, Andre Muntu, dan Harry Darsono (kemudian menjadi desainer nasional). Mereka kerap kali menyanyikan lagu-lagu milik The Beatles dan namanya cukup terkenal di kawasan lokalisasi Surabaya.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.