JAKARTA–KEMPALAN: Pengasuh Pondok Pesantren Ta’mirul Islam Solo, Jawa Tengah, KH Ali bin Naharussurur kembali mendoakan Anies Baswedan agar bisa memimpin Indonesia.
Doa itu Abah Ali panjatkan dalam muhibahnya di negeri Yaman, bertepatan dengan Hari Santri Nasional (HSN).
“Mengapa mendoakan Pak Anies Rasyid Baswedan, jawaban abah Ali singkat. Pak Anies Baswedan adalah orang yang ikhlas,” kata alumnus Ponpes Darussalam Gontor Ponorogo, Jawa Timur, itu, Sabtu 22 Oktober 2022.
Seberapa optimistis Anies Baswedan bakal mampu memimpin Indonesia yang beragam suku, ras, dan agama dengan begitu kompleksnya problem yang tengah dihadapi bangsa ini, Abah Ali mengatakan, “Yang membuat Pak Anies mampu memimpin Indonesia adalah doa kita semua.”
Ponpes Ta’mirul Islam mempunyai panca jiwa yang menjadi roh dalam aktivitas sehari-hari dalam pondok. Pertama, jiwa keikhlasan. Sepi ing pamrih. Bukan karena didorong oleh keinginan mencari keuntungan tertentu, tapi semata-mata karena didorong oleh keinginan tertentu, semata-mata karena Allah SWT. Hal ini meliputi segenap kehidupan di pondok. Ustadz dan ustadzah ikhlas dalam mengajar dan para santri ikhlas dalam belajar.
Kedua, jiwa kesadaran. Para kyai, pengasuh, ustadz dan ustadzah, serta para santri melaksanakan tugas dan perannya masing-masing dengan penuh kesadaran. Semua tahu dan mengerti akan tugasnya, yaitu, beribadah lillahi ta’ala.
Ketiga, jiwa kesederhanaan. Kehidupan di dalam pondok pesantren diliputi suasana kesederhanaan, tetapi agung. Sederhana bukan berarti pasif atau miskin, tetapi sederhana mengandung unsur kekuatan dan ketabahan hati dalam menghadapi perjuangan hidup dengan segala kesulitan.
Keempat jiwa keteladanan. Setiap orang harus siap menjadi teladan bagi orang lain di dalam kebaikan tentunya. Seorang kyai akan selalu diteladani oleh para guru dan santrinya, para ustadz dan ustadzah harus menjadi teladan yang baik bagi para santrinya. Santri yang lebih baru harus mau meneladani dari kakak-kakaknya yang baik, dan begitu seterusnya sehingga satu sama lain saling meneladani dalam kebaikan.
Kelima jiwa kasih sayang. Kasih sayang menjadi ruh bagi pendidikan. Kesombongan, kebodohan, kemalasan dan kemarahan, hanya dapat diluruhkan dengan kasih sayang. Kasih sayang yang benar yang tidak menghalangi ditegakkannya disiplin dan peraturan. Seorang anak yang mendapat sanksi dari pengasuhnya, bukanlah sedang dihukum karena dendam dan kemarahan, tapi semata untuk perbaikan dengan penuh kasih sayang. (kba)
Editor: Freddy Mutiara

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi