JAKARTA-KEMPALAN: Yahya Cholil Staquf, wajah baru Ketum PBNU yang baru saja terpilih pada muktamar ke-34 kemarin, mengungkapkan bahwa dirinya tak ingin ormas yang tengah dipimpinnya menjadi terlalu dekat dengan politik praktis, tak terkecuali juga terkait dukungan-dukungan yang digunakan dalam Pilpres 2024 mendatang.
Hal ini akhirnya menuai beberapa persoalan, yang salah satunya dikeluarkan oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), PKB sendiri memahami keinginan dari Ketum PBNU tersebut, tetapi, pihaknya sendiri meyakini bahwa NU akan tetap memiliki peran yang besar dalam lika-liku perpolitikan nasional.
“Jadi bagi NU, bagi PKB, bahwa politik atau presiden dan wakil presiden itu panggilan dari pengabdian,” ungkap Jazilul Fawaid selaku Waketum PKB saat memberikan keterangannya dalam acara rilis survei Politika Research and Consulting (PRC) dan Parameter Politik Indonesia (PPI), pada Senin (27/12) kemarin.
“Bagi NU, kepemimpinan itu bagian dari pengabdian, itu bagian dari ibadah,” sambungnya, melansir dari media Detik.
Jazilul juga sempat menyatakan bahwa akan selalu ada warna-warna yang diberikan oleh NU pada setiap figur politikus yang akan bersaing pada pilpres 2024 mendatang.
Akan tetapi, dirinya menegaskan bahwa NU sendiri, secara organisasi tidak memiliki keterlibatan dalam arus politik praktis yang ada di Indonesia.
“Setiap periode itu selalu ada yang berbau-bau NU dan itu bukan resmi bagian dari rekomendasi atau pekerjaan yang dilakukan oleh Nahdlatul Ulama,” terangnya.
Oleh karena itu…

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi