JAKARTA-KEMPALAN: Pengamat Politik dan Hukum Muslim Arbi menilai dinamika yang terjadi di dalam kubu Roy Suryo belakangan ini menunjukkan pola yang tidak sederhana.
Menurutnya, terdapat indikasi adanya operasi yang dirancang untuk memancing munculnya persoalan hukum sekaligus menciptakan perpecahan di lingkungan pendukung mantan Menteri Pemuda dan Olahraga tersebut.
Dalam pandangan Muslim Arbi, situasi yang berkembang memerlihatkan apa yang ia sebut sebagai “operasi pancing jaring”, yakni sebuah strategi yang bertujuan memancing seseorang agar melakukan tindakan yang kemudian dapat dijadikan dasar untuk proses hukum.
“Yang saya lihat ada indikasi operasi pancing jaring. Targetnya dipancing supaya melakukan sesuatu yang kemudian bisa dijadikan pintu masuk persoalan hukum. Cara seperti ini sangat canggih karena lawan dibuat bereaksi sesuai skenario yang sudah disiapkan,” ujar Muslim Arbi dalam pernyataan kepada wartawan, Kamis (2/7/2026).
Menurutnya, pola tersebut bukan hanya berkaitan dengan aspek hukum, tetapi juga menyentuh dimensi psikologis. Pihak yang menjadi sasaran, kata dia, terus-menerus dihadapkan pada tekanan sehingga berpotensi mengambil langkah yang justru menguntungkan pihak lawan.
Muslim Arbi menilai strategi semacam itu lazim digunakan dalam pertarungan politik maupun konflik berkepanjangan. Seseorang tidak langsung diserang secara terbuka, melainkan diarahkan agar melakukan kesalahan sendiri.
“Kalau seseorang berhasil dipancing melakukan pelanggaran, maka proses berikutnya menjadi lebih mudah. Inilah yang saya sebut operasi pancing jaring,” katanya.
Selain itu, Muslim Arbi juga melihat adanya indikasi operasi adu domba yang mulai berkembang di sekitar kubu Roy Suryo. Ia mencermati munculnya berbagai pemberitaan mengenai perbedaan pendapat di internal tim, termasuk polemik yang menyeret sejumlah pengacara.
Menurutnya, perbedaan pandangan dalam sebuah tim merupakan hal yang wajar. Namun ketika perbedaan tersebut terus diekspos dan dibesar-besarkan di ruang publik, situasinya dapat berubah menjadi instrumen untuk melemahkan soliditas kelompok.
“Yang saya lihat sekarang mulai muncul narasi saling menyalahkan. Bahwa ada pengacara yang dipersoalkan, ada yang kemudian diberitakan seolah-olah jadi penyebab persoalan, bahkan sampai muncul kabar pemecatan. Perbedaan itu terus di-blow up di media,” ujarnya.
Muslim Arbi menilai pemberitaan mengenai konflik internal memiliki dampak psikologis yang besar. Publik akan lebih fokus pada perpecahan dibanding substansi persoalan yang sedang dihadapi.
Menurutnya, strategi adu domba merupakan metode klasik yang hingga kini masih efektif apabila berhasil memecah kepercayaan antar pihak dalam suatu kelompok.
Ia menambahkan bahwa ketika rasa saling percaya mulai berkurang, energi organisasi akan habis untuk menyelesaikan konflik internal. Pada saat yang sama, fokus menghadapi persoalan utama menjadi berkurang.
“Kalau internal mulai saling curiga, maka pihak luar tidak perlu bekerja terlalu keras. Kelompok itu akan melemah dengan sendirinya,” kata Muslim Arbi.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa setiap tim hukum maupun tim pendukung tokoh publik perlu berhati-hati menghadapi berbagai dinamika yang berkembang di ruang publik. Menurutnya, tidak semua informasi yang beredar harus direspons secara emosional.
Muslim Arbi menilai kehati-hatian menjadi faktor penting agar tidak terjebak dalam skenario yang justru merugikan pihak sendiri. Ia mengingatkan bahwa perang opini saat ini berlangsung sangat cepat melalui media massa maupun media sosial.
Karena itu, ia mengimbau seluruh pihak untuk tetap mengedepankan langkah-langkah yang sesuai koridor hukum dan menghindari tindakan yang dapat memperburuk situasi. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi