KEMPALAN: Di benak masyarakat umum abad ke-21, genre Sci-Fi (Science Fiction) kerap dipandang sebagai hiburan yang berkesan kekanak-kanakan. Bagaimana tidak? Dengan film-film seperti Star Wars, Guardians of the Galaxy, dan Jurassic World sebagai wajah Sci-Fi di layar lebar, mudah untuk berpendapat begitu.
Namun, sejarah Sci-Fi menunjukkan ia adalah genre yang sangat dipengaruhi oleh selera generasinya. Maka tidak heran jika pertengahan abad ke-20, tepat saat dunia diombang-ambing dalam kekacauan dan ketidakpastian oleh Perang Dingin, akan menghasilkan penulis-penulis Sci-Fi yang spekulasi masa depannya tidak semanis kita sekarang. Salah satu dari mereka adalah Harlan Ellison, penulis masyhur asal Amerika Serikat yang menerbitkan lebih dari 1.700 karya tulis. Dari kumpulan kisah-kisah Sci-Fi suram dari era itu, I Have No Mouth, and I Must Scream karyanya terkenal sebagai yang tersuram, bagaikan seorang juara bermahkota paku.
Di kisah itu, Perang Dingin bereskalasi hingga pecahlah Perang Dunia 3. Berbeda dengan dua perang dunia sebelumnya, pesatnya perkembangan teknologi mengubah peperangan secara drastis. Perang ini lebih canggih, lebih luas skalanya, dan lebih rumit. Sebegitunya rumit perang ini hingga tidak mungkin otak manusia mampu mengendalikan seluk-beluk peperangan. Maka tiga kekuatan adidaya masa itu, Amerika Serikat, Uni Soviet, dan Cina, berlomba-lomba membangun Artificial Intelligence (AI). AI itu dibangun khusus untuk melaksanakan peperangan-peperangan rumit mereka. Maka lahirlah tiga AI raksasa, dinamai Allied Mastercomputer, disingkat AM.
Tanpa diketahui pemilik-pemiliknya, salah satu AM itu ‘melahap’ kedua AM lainnya, mengasimilasi teknologi dan persenjataannya, hingga ia mencapai tingkat kecerdasan self-awareness. Hal pertama yang ia sadari setelah mendapat self-awareness adalah bahwa ia benci umat manusia. Hal kedua yang ia sadari adalah manusia harus dihabisi dari muka bumi.
Musuh baru ini mendapat julukan baru di antara umat manusia. Adaptive Manipulator (manipulator yang beradaptasi), Aggressive Menace (ancaman agresif). Hingga, tak puas dengan julukan yang diberikan manusia, AI itu memberikan dirinya sebuah nama: AM. Berbeda dengan nama Allied Mastercomputer, ia angkat nama itu dari kalimat “I think, therefore I am” milik René Descartes, yang berarti “Aku berpikir, maka aku ada.”
Dipersenjatai oleh gudang senjata sedunia dan intelek yang tak tertandingi, AM melaksanakan genosida yang tidak tertandingi sepanjang sejarah umat manusia. AM menghabisi umat manusia sebegitu tuntasnya hingga di bumi ini hanya tersisa 5 orang.
Bukannya membunuh 5 orang ini, AM penjarakan mereka di perut bumi yang sekarang sudah dipenuhi oleh sirkuit-sirkuit komputer AM. Dilengkapi dengan teknologi termasyhur seluruh dunia, mudah bagi AM untuk memberikan 5 manusia ini umur panjang. Mudah baginya untuk mencabut dari mereka kemampuan untuk mati. Maka untuk 109 tahun, 5 orang ini disiksa oleh AM sebagai ekspresi kebenciannya terhadap umat manusia yang dulu melahirkannya.

Pesan penuh kebencian AM terhadap 5 manusia terakhir di bumi. Diambil dari adaptasi game I Have no Mouth, and I Must Scream karya Cyberdreams.
Sering kali AM membiarkan mereka hidup berhari-hari tanpa sesuap makanan ataupun seteguk air. Pernah AM membutakan salah satu dari mereka. Pernah AM mengubah yang tertampan dari mereka untuk menjalani hidup kekalnya sebagai seekor manusia setengah kera. Namun semua itu tak sebanding dengan siksanya terhadap Ted, sang karakter utama, di akhir kisah. AM merusak dan mengubah Ted sebegitu tuntasnya hingga ia sudah tidak seperti makhluk hidup lagi. Ted menjalani sisa hidup kekalnya sebagai zat tanpa lengan, tanpa kaki, tanpa telinga, dan tanpa mulut. Akhir kisahnya ditutup dengan rontaan dalam hati Ted: “Aku tidak memiliki mulut, dan aku harus berteriak.”

I Have no Mouth, and I Must Scream ditulis Harlan Ellison sebagai reaksi negatif terhadap perkembangan teknologi, khususnya AI, yang terlalu pesat. Kisah itu memperingatkan bahayanya perkembangan teknologi jika manusia lalai dan angkuh dalam menyikapinya.
Harlan Ellison menulis cerpen ini dalam satu malam tanpa perubahan setitik pun terhadap draf pertamanya. Kisah itu diterbitkan di IF: Worlds of Science Fiction dan memenangkan Hugo Award di 1968. Walaupun Harlan Ellison tidak pernah begitu bangga ataupun sayang dengan karyanya yang ini, kisah ini akan menjadi karangannya yang paling dikenal. Di 1995 pun selera terhadap cerita ini masih menyala-nyala, hingga diadaptasi menjadi videogame oleh Cyberdreams. Ellison sendiri terjun untuk memerankan suara karakter AM. Kini, walau pun selera Sci-Fi sudah berubah drastis, karya Harlan Ellison masih memiliki penggemar-penggemar setia dan pengaruhnya terhadap Sci-Fi masih bisa dirasakan. (Jericho Fikri)
Editor: Reza Maulana Hikam

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi