Kamis, 30 April 2026, pukul : 03:59 WIB
Surabaya
--°C

Petunjuk Allah Hanya untuk Orang yang Dikehendaki

Ibu Nyai Dr.Hj. Mihmidaty Ya’cub

KEMPALAN: Allah SWT berfirman, memberi petunjuk kepada kita bahwa yang melapangkan dada, memberi petunjuk, memberi ketenangan hanya Allah SWT. Orang-orang yang hatinya diberi kelapangan, di beri hidayah oleh Allah untuk menerima kebenaran cahaya Islam, jalan yang lurus. Hidayah adalah bimbingan atau petunjuk yang diberikan oleh Allah SWT untuk seseorang, berupa terbukanya hati dan lapangnya dada untuk meyakini kebenaran agama Islam.

Hidayah merupakan penyebab utama keselamatan dan kebaikan hidup manusia di dunia dan akhirat. Barang siapa yang dimudahkan oleh Allah SWT untuk meraihnya, sesungguhnya dia telah meraih keberuntungan yang besar dan tak  ada satu pun yang mampu mencelakakannya. Secara terminologi (istilah), Hidayah adalah penjelasan dan petunjuk jalan yang menyampaikan kepada tujuan sehingga meraih kemenangan di sisi Allah SWT. Allah memberi petunjuk kepada siapa yang dipilih dan dikehendaki-Nya, dan menyiksa siapa pun yang mendustakan ayat-ayat-Nya.

Dalam Al-Quran surat Az-Zumar: 22-24 Allah SWT berfirman yang artinya, “Maka apakah orang-orang yang dibukakan hatinya oleh Allah untuk (menerima) agama Islam lalu dia mendapatkan cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang hatinya membatu)? Maka celakalah mereka yang hatinya membatu untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Quran yang serupa (ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karena kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka ketika mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu.

Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa dibiarkan sesat oleh Allah, maka tidak seorang pun yang dapat memberi petunjuk. Maka apakah orang-orang yang melindungi wajahnya menghindari azab yang buruk pada hari kiamat (sama dengan orang mukmin yang tidak kena azab)? Dan dikatakan kepada orang-orang yang zalim, “Rasakanlah olehmu balasan yang telah kamu kerjakan.”

Umumnya, hidayah dibagi menjadi dua yaitu, Hidayah Bayan wal Irsyad (penjelasan dan petunjuk). Hidayah ini biasanya dimiliki oleh para Nabi dan Rasul. Mereka punya kewajiban menyampaikan dan menjelaskan hal tersebut kepada Ummat yang ada bersama mereka pada saat itu. Bimbingan dan penjelasan tentang kebaikan dan kejelekan, jalan  keselamatan dan kebinasaan. Petunjuk atau bimbingan kepada jalan kebaikan itu untuk ditapaki, sedangkan penjelasan tentang jalan kejelekan itu untuk dihindari dan dijauhi.

Lalu ada Hidayah Taufiq yang merupakan hidayah yang Allah turunkan kepada hamba-hamba Allah, siapa saja, dengan syarat punya kemauan dan kesungguhan untuk mendapatkan hidayah Allah. Hidayah ini merupakan ilham dalam hati manusia untuk mengikuti jalan yang benar dan kelapangan dada untuk menerima kebenaran serta memilihnya. Hidayah itu harus dijemput bukan ditunggu. Hidayah itu akan Allah berikan kepada  hamba-hamba yang bersungguh-sungguh mengejarnya.

Dalam Tafsir Al-Manar, Muhammad Abduh menyatakan bahwa hidayah yang diberikan Allah SWT kepada semua makhluk-Nya itu dalam lima bentuk.  Hidayah Al-Wijdan atau Hidayah Al-Ilham (insting, naluri), Hidayah ini merupakan fitrah yang Allah SWT berikan kepada semua makhluk ciptaannya. Lalu Hidayah Al-Hawas (indera), merupakan Hidayah yang membuat makhluk Allah SWT mampu merespon  suatu peristiwa dengan respons yang sesuai.

Kemudian ada Hidayah Al-‘Aql (akal rasio), yaitu hidayah akal yang merupakan hidayah yang diberikan khusus kepada manusia yang membuatnya bisa berpikir untuk menemukan ilmu dan sekaligus merespon peristiwa dalam kehidupannya dengan respon yang bermanfaat bagi dirinya. Hidayah Al-Wahyi (wahyu, agama) adalah hidayah yang merupakan panduan Ilahiyah yang membuat manusia mampu membedakan yang hak dan batil, antara yang baik dan yang buruk. Terakhir  Hidayah Al-Taufiq atau Al-Ma’unah (pertolongan). Merupakan hidayah yang membuat manusia hanya akan menjadikan agama sebagai panduan hidup dalam menjalani kehidupannya.

Orang-orang yang mendapatkan hidayah, akan merasakan kemudahan atau dimudahkan dalam beramal saleh. Kesulitan yang dialami justru semakin meningkatkan niat dan tekatnya. Mereka juga istiqamah atau konsisten dalam melaksanakannya karena adanya  dorongan dan kerinduan yang tidak seperti biasanya kepada Allah SWT. Selalu bersabar dalam menghadapi berbagai ujian hidup dan bersemangat dalam mempelajari ajaran agama.

Hamba-hamba Allah yang sudah dilapangkan dadanya untuk menerima kebenaran Islam adalah orang-orang yang beruntung. Lapang dada secara simbolik digunakan oleh Allah SWT untuk menunjukkan pada orang-orang yang kepadanya Dia berkenan memberikan hidayah. Oleh karena itu, seperti dituturkan Muhammad Ghazali dalam buku Khuluk al-Muslim, tak ada nikmat yang lebih besar selain lapang dada. Di dalam hati yang lapang dan hati yang bersih itulah, bersemayam iman dan takwa.

Allah SWT berfirman yang artinya, “Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang di kehendaki Allah kesesatannya, maka Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit.” (QS. Al-An’am: 125). (*)

Rabu, 04022022

Transkrip: Adib Muzammil

 

Editor: Reza Maulana Hikam

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.