Para pimpinan dan ulama kami tak pandai bikin proposal. Apalagi menjilat ke para pejabat untuk dapat proyek.
Kami urunan bikin masjid, sekolah, universitas dan RS.
Setelah besar kami berikan untuk Persyarikatan Muhammadiyah.
BACA JUGA: Gaduh Nasional, dari Duren Tiga, ke Kanjuruhan, Ijazah Palsu, dan Jenderal Narkoba
Semua amal usaha yang kami punya bukan milik para pimpinan, pengurus, atau bahkan ulama, tapi milik Persyarikatan.
Tidak ada yang Dimiliki pribadi yang bisa diwariskan kepada anak cucu.
Meski begitu, kami tidak menutup diri. Setiap pemberian baik dari pemerintah atau siapapun kami terima dengan senang hati sebagai Amanah.
Kami juga bikin proposal secukupnya, membuka ruang bagi siapapun untuk sumbangan sepatutnya, tidak berlebihan atau memaksa-maksa sambil menakar jasa.
Meski terdaftarkan sebagai organisasi modern, sesungguhnya kami tetap konvensional secara generik.
Tetap bersahaja, sederhana dan apa adanya. Merawat urunan, silaturahim, dan kajian-kajian sederhana. Itu salah satu rahasia kenapa Persyarikatan kami tetap survive meski berbagai hambatan menghalang.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi