Rabu, 8 Juli 2026, pukul : 18:18 WIB
Surabaya
--°C

Loket Kanjuruhan

Komentar Pilihan Dahlan Iskan

Edisi 8 Oktober 2022: Satria Kanjuruhan

Isa Milis

Kekecewaanku semakin memburat. Terhadap sosok pemegang gas air mata Satu dua boleh disebut oknum Namun sepuluh seratus pastilah institusi Tidak bawahan tidak atasan sama semua Hanya menunggu waktu untuk terbuka topengnya Sambo sambo pembunuh yang bengis Buta hati nurani berlumur benci dan harta haram Kapankah datangnya pertolonganMu? Untuk mengganti satu generasi mereka Untuk membangun kembali institusi baru pengayom masyarakat Yang menegakkan kebenaran dan keadilan Yang berhati nurani dan berbelas kasih Bukan hanya prediktif tanpa nurani dan kebenaran Bukan hanya responsibilitas tanpa nurani dan kebenaran Pun bukan hanya transparansi tanpa nurani dan kebenaran Namun kebenaran dahulu, keadilan dulu, hati nurani dulu, kejujuran dulu, baru presisi atau apalah slogannya

No Name

Pintu dan tangga stadion tak mampu meminta maaf!

Ujang Wawa

Puiai cinta luar biasa,yang memilih dan memuatnya, pastilah juga bercita rasa tinggi. Kalau ketum PSSI atau Kapolda Jatim membacakan dulu puisi ini, lalu menyatakan mundur, mungkin ksatria tidak akan ada hanya dalam pewayangan

BACA JUGA  Mengapa Penderita NPD Tidak Betah di Hubungan yang Nyaman

Mirza Mirwan

Investigasi The Washington Post yang diberitakan Kamis, 6/10, sebagiannya adalah hasil analisis para pakar pengendalian massa dan advokat hak-hak sipil atas sekitar 100 video dan foto. Secara eksplisit hal itu ditulis di paragraf ke-4. “Ulasan (ini) — berdasarkan pemeriksaan lebih dari 100 video dan foto, wawancara dengan 11 saksi, dan dianalisis oleh para pakar pengendalian massa dan advokat hak-hak sipil — mengungkapkan bagaimana penggunaan gas airmata oleh polisi dalam merespon ratusan fans (Arema FC) yang turun ke lapangan menyebabkan gelombang besar (a huge surge) di ujung tenggara (pintu 13) stadion Kanjuruhan, di mana para survivor bilang sebagian besar kematian terjadi.” Dari investigasi WP itu tercatat ada sekitar 40 kali tembakan gas air mata dalam waktu 10 menit, kebsnyakan ke arah tribun di sektor pintu 11, 12, dan 13. Diketahui juga bahwa peluit akhir pertandingan pk. 21.39, lalu pk. 21.45 beberapa fans Arema FC turun ke lapangan. Lima menit kemudian polisi mulai menembakkan gas airmata. Saya kira Rebecca Tan, Joyce Sohyun Lee, Sarah Cahlan, Imogen Piper, dan Aisyal Llewellyn tidak turun langsung ke Malang. Yang turun langsung ke Malang adalah kontributor WP: Adi Renaldi dan Winda Charmila, sebagai mana ditulis di akhir berita. Mongomong, CHD hari ini nanti raib kayak kemarin, nggak, ya!

BACA JUGA  Kamu Bahagia, Narsisis Terluka

Er Gham

Jika kondisi tidak mendukung, biarkan saja para wartawan asing yang melakukan investigasi langsung. Dan kita baca informasi terbaru dari media asing. Kan tidak mungkin membredel media asing. Paling hanya protes saja. Media lokal juga pasti ewuh pakewuh, berhati hati, dalam pemberitaan. Tulisan tulisan Abah juga tidak masuk ke tengah masalah. Abah lebih memilih untuk ‘melipir’ dari luar, sisi lain dari suatu kejadian. Seperti tentang bahasa bola, aremania, anto baret, fanatisme, puisi duka keluarga korban. Ditunggu tulisan Abah yang lain seputar tragedi kanjuruhan, sambil menunggu hasil investigasi tim independen.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.