Rabu, 24 Juni 2026, pukul : 02:35 WIB
Surabaya
--°C

Siapa Membunuh Putri (29)

Selama perjalanan baliho-baliho besar di beberapa simpang strategis telah dipenuhi oleh tampang-tampang politisi. Beberapa didesain bagus, beberapa hanya menjadi sampah visual, polusi pemandangan. Bingung juga menentukan mana yang baik untuk publik. Ah, politik, terlalu banyak wilayah remang dan abu-abu. Retorika mentah para politisi itulah membuatnya begitu.

BACA JUGA: Siapa Membunuh Putri (22)

”Sudah cukup ya bahan untuk feature pekerja perempuan itu? Kalau bisa selesai ditulis hari ini, besok kita naikkan,” kataku. Nurikmal mengiyakan. Kami lalu bicara soal bagaimana memberitakan sidang yang digelar besok. Sidang pertama bagi AKBP Pintor, agendanya pembacaan dakwaan.

Herman, manajer pemasaran kami masuk kantor dengan ekspresi tegang. ”Kita diteror lagi, Bang Dur!” katanya. Ia tunjukkan foto-foto di ponselnya. Tumpukan koran puluhan koli di halaman percetakan. Seperti dilemparkan dengan buru-buru. Koran-koran kami yang beberapa waktu lalu hilang dari pasaran, diborong dari beberapa agen. Beberapa dicuri. Koran-koran itu dilumuri darah. Saya tiba-tiba teringat pesan Pak Rinto: … turunkan sedikit tensi pemberitaanmu, kalau bisa, jangan menambah ketegangan. (Hasan Aspahani-Bersambung)

BACA JUGA  Tren Novel Online: Menantu versus Mertua
forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.