Bongkar Makam
KEMPALAN: MILA meneleponku, minta bertemu. Suaranya sangat memohon. Seperti menahan tangis. Saya sedang di kantor. Saya tahu di mana dia mengontrak kamar kos. Tapi dia menyebut tempat lain untuk bertemu. Masih ada waktu sebelum rapat-rapat redaksi dan rapat gabungan dengan iklan dan pemasaran. Diantar Edo, saya menuju tempatnya.
”Ini rumah sepupu saya,” kata Mila. ”Saya sementara sembunyi di sini. Mau pulang ke kos takut,” kata Mila.
”Nggak kerja?” tanyaku.
Bukannya menjawab, Mila malah menangis. Setelah reda. Dia lalu bercerita. ”Saya mau berhenti aja, Mas… Kantor sudah nggak enak banget. Mila takut sekarang,” katanya.
Apalagi setelah kejadian malam itu. Orang yang membuat Mila takut adalah Beni, Pemred Metro Kriminal yang menggantikan Bang Eel, setelah saya dan Bang Eel pindah ke Dinamika Kota.
”Kok ada orang brengsek kayak orang itu. Wartawan kok gak bermoral,” kata Mila.
Saya mengenal Mila sebagai gadis yang ramah, tak mudah membenci orang, menyenangkan, tapi tidaklah dia seorang gadis yang gampangan. Di awal-awal waktu saya kerja Metro Kriminal, saya pernah sakit tifus, harus diopname beberapa hari. Mila yang menjaga, paling tidak tiap hari dia menengok. Sampai saya sembuh. Saya kira itu tindak tanggung-jawabnya dan dia anggap tugasnya sebagai sekretaris redaksi.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi