Jumat, 8 Mei 2026, pukul : 20:27 WIB
Surabaya
--°C

Pemkot Minta Dibongkar Warga Menolak

SURABAYA-KEMPALAN: Rencana Pemkot Surabaya, untuk membongkar tembok pagar Betjik Djojo, ternyata mendapat perhatian warga.

Sebab, di Gg Tembusan, Gembong Sawah itu, merupakan gang buntu.

Tembusannya, hanya ditempati lima kepala keluarga (KK).

Mereka hawatir. Bila gang buntu itu diperlebar. Keamanannya pun, tidak kondusif seperti sekarang. Karena itu, mereka menolak.

Sebab, dengan gang kecil sekarang, yang melintas pun hanya penghuni. “Jangan sampai gang ini diperlebar Pak. Bahaya,” aku Ibu Rini. Warga yang menempati di mulut gang buntu itu.

Seperti banyak diberitakan Jumat. Wakil Walikota Armuji, berkunjung ke sana. Dia minta. Agar tembok pembatas dibongkar. Agar gang bisa lebar.

“Sebagai penghuni. Saya sampaikan ke Pemkot. Dengan keadaan seperti sekarang, sudah cukup bagus. Karena yang melintas hanya kami,” jelas ibu dua anak itu.

Kata dia. Dari Gg Tembusan ke timur, tembus di Jalan Gembong Sekolahan. Cukup lebar. Bila naik kendaraan, maka pilihannya ke jalan itu. “Kami minta. Kalau Pemkot mau bongkar. Perlu dipertimbangkan lagi. Dari sisi keamanan warga,” tutur ibu dua anak itu, serius.

Gang Tembusan Surabaya. (Foto: Nasaruddin Ismail-Kemapalan.com)

“Saya hawatir. Pejabat Pemkot tidak tau, kalau gang ini, buntu. Dan hanya dilintasi lima warga.”

Di sepanjang Gang Tembusan, kini hanya dihuni 5 KK. Satu rumah lagi, milik Betjik Djojo.

Penghuninya, sudah lansi semua. Ibu Rini, misalnya. Dia sudah berusia 70 tahun. Ia mengaku.Sudah 50 tahun tinggal di sana. Selama ini dikenal cukup aman. Tak pernah terjadi, hal-hal tak diinginkan.

“Sejak dulu, kondisi di sini aman. Dan tertib,” ujarnya lagi.

Dulu, katanya, gang itu, tempat pembuangan sampah. Dan kotoran. Tidak tau. Dari mana sampah-sampah itu.

Untung, di mulut gang yang tembus Jalan Kapasan itu, ada suami isteri. Yang buka warung.

Ibu Sani dan Mat Kacong, sudah 15 tahun berjualan di mulut gang itu.

Mereka orang ke lima, yang buka warung di lokasi yang sama.

Suami isteri itu, asal Sampang. Tinggal di Tanah Merah, Kedinding, Surabaya.

Dari hasil warung sempitnya itulah, jadi sumber kehidupannya.

Merasa menempati mulut gang untuk mencari sesuap nasi. Dia pun jadi tukang kebersihan di gang itu.

Mat Kacong membenarkan bila gang itu, jadi tempat pembuangan sampah. Itu dulu.

“Yang bersihkan sampah dan kotoran di suni, ya saya,” aku Mat Kacong.

Dia juga berharap. Agar gang itu, tak perlu diperlebar. Karena pemanfaatannya, juga terbatas. “Selama saya berjualan di sini, di belakang cukup aman,” tuturnya. (Nas)

Editor: DAD

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.