Senin, 11 Mei 2026, pukul : 12:53 WIB
Surabaya
--°C

Jago Wayan

Akhirnya berhasil juga. Wayan mendapat kontrak pasok cangkang sawit 3.000 ton setahun. Selama 5 tahun. Jadilah Wayan pengusaha. Tugasnya sebagai pelatih tentara jalan terus. “Saya sampai punya tabungan Rp 7 miliar,” katanya.

Wayan ingat orang tuanya. Yang hidup sebagai transmigran di Sulteng. Ia ingin pindahkan ayahnya ke Riau: agar bisa bertani sawit. Ia tahu ada transmigran yang dapat 2 hektare lahan sawit di Riau. Ia cari siapa yang tidak kerasan di lahan sawit itu. Ia beli lahannya. Ia serahkan ke ayahnya. Jadilah ayahnya pengelola 2 hektare kebun sawit.

BACA JUGA: PGA LIV

Wayan sendiri ternyata pindah tugas ke Riau. Ia menjadi wakil kepala rumah sakit tentara di Pekanbaru. Pangkatnya sudah kapten. Ia pun bisa sambil menjadi pengusaha kebun sawit. Tabungannya dari jualan cangkang sawit di Pematang Siantar ia belikan lahan di Riau. Ia datangkan 16 anak muda miskin dari Banyuwangi. Satu orang diminta mengelola 2 hektare kebun sawit. Berhasil. Mereka juga beternak sapi di kebun sawit. Sekalian sebagai sumber bahan baku pembuatan pupuk alami.

Rumah sakit tentaranya maju. Usaha pribadinya juga maju. Ia jadi bos. Pangkatnya naik menjadi mayor. Umurnya menginjak 45 tahun. Ia memutuskan untuk pensiun dini sebagai mayor. Ia ingin sepenuhnya konsentrasi di bisnis.

Saat itu lagi ada tawaran menggiurkan: membangun ratusan rumah dan ruko. Ia pun bekerja sama dengan pengusaha itu. Rumah dibangun. Pakai uang tabungannya. Ditambah uang muka dari pengusaha itu. Juga dari pinjaman bank.

Si pengusaha lari. Ke Singapura. Rumah-rumah sudah setengah jadi. Tidak ada yang membeli. “Saya langsung bangkrut. Habis. Ludes,” katanya.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.