KEMPALAN: Hawa nafsu mempunyai makna keinginan atau dorongan hati yang kuat untuk melakukan perkara yang tidak baik, seperti syahwat dan sejenisnya. Makna ini mirip dengan asal kata pembentukannya dalam Bahasa Arab, karena hawa adalah keinginan dan nafs adalah jiwa.
Dalam bahasa melayu, Nafsu bermakna keinginan, kecenderungan atau dorongan hati yang kuat. Jika ditambah dengan kata hawa (= Hawa nafsu), biasanya dikaitkan dengan dorongan hati yang kuat untuk melakukan perkara yang tidak baik.
Seseorang dapat terjerumus ke dalam perbuatan dosa atau kesalahan, karena ketidakmampuannya mengendalikan hawa nafsu. Hawa nafsu memiliki sifat alami terendah, yaitu sifat hewan (hayawaniah), yaitu cenderung kepada keburukan serta bertentangan dengan kebenaran, karena prinsip kerjanya mengejar kesenangan (Pleasure principle) semata.
Mencermati dan meminimalkan gerak hawa nafsu dalam memengaruhi dalam setiap lintasan pikiran, perkataan dan perbuatan, merupakan hal yang penting dan harus senantiasa dilakukan agar kita terhindar dari perbuatan dosa dan kemurkaan Allah SWT.
BACA JUGA: Daughter
Rosulullah SAW bersabda, “Orang yang lemah (jiwanya) adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan lalai dalam menjalankan perintah Allah SWT.” (HR. Tumudi). Bahaya mengikuti hawa nafsu adalah akan membuat seseorang berbuat menyimpang dari kebenaran.
Ada tiga tingkatan nafsu yang ada pada diri manusia yang paling kita kenal. Nafsu Mutmainah (an-nafs al-mutmainnah), diterjemahkan sebagai jiwa yang tenang. Jiwa yang telah sanggup menerima cahaya kebenaran Ilahi. Nafsu ini menempati tingkat tertinggi. Yang ke dua nafsu lawamah (an-nafs al-lawwamah). Nafsu yang banyak mencela, mengeluh dan menyalahkan. Cuma yang dicela, dikeluhkan dan disalahkan adalah dirinya sendiri. Termasuk nafsu yang mulia karena hanya orang Mukmin yang bisa menyesali dan menyalahkan dirinya sendiri.
Yang ke tiga adalah nafsu amarah (nafs al ammarah bi as-su’). Secara harfiah kata “ammarah” berarti banyak menyuruh, sedangkan kata “Su” berarti keburukan atau kejahatan. Jadi nafsu amarah adalah nafsu yang cenderung menyuruh berbuat keburukan. Ingin memenuhi kehendak hawa nafsu dalam segala bidang kehidupan, sehingga tidak menghiraukan kaidah-kaidah agama. Nafsu Mutmainah dan Lawamah adalah nafsu yang sangat baik, sedangkan nafsu Amarah adalah yang harus kita hindari.
Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah Rahimahullah mengatakan, nafsu diciptakan ada pada diri manusia guna menjaga kelangsungan hidupnya. Sebab, kalaulah tidak ada nafsu makan, minum dan nikah, tentulah manusia akan mati dan punah. Nafsu mendorong manusia meraih perkara yang diinginkan, sedangkan marah mencegah dari perkara yang mengganggunya dalam kehidupannya.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi