
Oleh:
Adib Muzammil
KEMPALAN : Hawa nafsu mempunyai makna keinginan atau dorongan hati yang kuat untuk melakukan perkara yang tidak baik, seperti syahwat dan sejenisnya. Makna ini mirip dengan asal kata pembentukannya dalam Bahasa Arab, karena hawa adalah keinginan dan nafs adalah jiwa.
Dalam bahasa melayu, Nafsu bermakna keinginan, kecenderungan atau dorongan hati yang kuat. Jika ditambah dengan kata hawa (= Hawa nafsu), biasanya dikaitkan dengan dorongan hati yang kuat untuk melakukan perkara yang tidak baik.
Seseorang dapat terjerumus ke dalam perbuatan dosa atau kesalahan, karena ketidakmampuannya mengendalikan hawa nafsu. Hawa nafsu memiliki sifat alami terendah, yaitu sifat hewan (hayawaniah), yaitu cenderung kepada keburukan serta bertentangan dengan kebenaran, karena prinsip kerjanya mengejar kesenangan (Pleasure principle) semata.
Mencermati dan meminimalkan gerak hawa nafsu dalam memengaruhi dalam setiap lintasan pikiran, perkataan dan perbuatan, merupakan hal yang penting dan harus senantiasa dilakukan agar kita terhindar dari perbuatan dosa dan kemurkaan Allah SWT.
Rosulullah SAW bersabda, “Orang yang lemah (jiwanya) adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan lalai dalam menjalankan perintah Allah SWT.” (HR. Tumudi). Bahaya mengikuti hawa nafsu adalah akan membuat seseorang berbuat menyimpang dari kebenaran.
Ada tiga tingkatan nafsu yang ada pada diri manusia yang paling kita kenal. Nafsu Mutmainah (an-nafs al-mutmainnah), diterjemahkan sebagai jiwa yang tenang. Jiwa yang telah sanggup menerima cahaya kebenaran Ilahi. Nafsu ini menempati tingkat tertinggi. Yang ke dua nafsu lawamah (an-nafs al-lawwamah). Nafsu yang banyak mencela, mengeluh dan menyalahkan. Cuma yang dicela, dikeluhkan dan disalahkan adalah dirinya sendiri. Termasuk nafsu yang mulia karena hanya orang Mukmin yang bisa menyesali dan menyalahkan dirinya sendiri.
Yang ke tiga adalah nafsu amarah (nafs al ammarah bi as-su’). Secara harfiah kata “ammarah” berarti banyak menyuruh, sedangkan kata “Su” berarti keburukan atau kejahatan. Jadi nafsu amarah adalah nafsu yang cenderung menyuruh berbuat keburukan. Ingin memenuhi kehendak hawa nafsu dalam segala bidang kehidupan, sehingga tidak menghiraukan kaidah-kaidah agama. Nafsu Mutmainah dan Lawamah adalah nafsu yang sangat baik, sedangkan nafsu Amarah adalah yang harus kita hindari.
Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah Rahimahullah mengatakan, nafsu diciptakan ada pada diri manusia guna menjaga kelangsungan hidupnya. Sebab, kalaulah tidak ada nafsu makan, minum dan nikah, tentulah manusia akan mati dan punah. Nafsu mendorong manusia meraih perkara yang diinginkan, sedangkan marah mencegah dari perkara yang mengganggunya dalam kehidupannya.
Selain ada tiga tingkatan nafsu yang ada pada diri manusia, menurut Imam Ghazali ada tiga tingkatan manusia dalam melawan hawa nafsu. Tingkatan pertama adalah orang yang sepenuhnya dikuasai oleh hawa nafsunya dan tidak dapat melawannya sama sekali. Ia telah mempertuhankan nafsunya. Ini merupakan keadaan manusia pada umumnya. QS. Al-Jasiyah : 23, “Maka, pernahkah kamu melihat orang yang telah menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmunya.”
Kedua, orang yang senantiasa dalam pertarungan melawan hawa nafsu. Pada suatu kali ia akan menang dan pada kali yang lain ia kalah. Kalau maut merenggutnya dalam pertarungan ini, maka ia tergolong mati syahid. Sesuai sabda Nabi SAW, “Berjuanglah kamu melawan hawa nafsumu sebagaimana kamu berjuang melawan musuh-musuhmu.” Ini tingkatan manusia yang paling tinggi di bawah para Nabi dan wali-wali Allah SWT.
Ketiga, menurut Imam Al-Ghazali, ini merupakan tingkatan para Nabi dan wali-wali Allah SWT. Mereka adalah orang yang sepenuhnya dapat menguasai dan mengendalikan hawa nafsunya. Inilah orang yang mendapat rahmat Allah SWT, sehingga terjaga dan terpelihara dari dosa-dosa dan maksiat.
Nafsu adalah fitrah manusia, sebagaimana takwa juga adalah fitrah. Sebagai bagian dari ujian Allah SWT, setiap jiwa manusia cenderung untuk berbuat dosa dan maksiat. Jika manusia dihadapkan pada pilihan yang baik atau pilihan yang buruk, ia lebih tertarik melakukan pilihan yang buruk. Hal ini sesuai QS. Yusuf : 53, ”Karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh pada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Memiliki hawa nafsu buruk itu manusiawi. Melawan dorongan hawa nafsu, itulah seorang Muslim. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi