Minggu, 31 Mei 2026, pukul : 04:53 WIB
Surabaya
--°C

Siapa Membunuh Putri (12)

Malam itu kepada Ferdy saya juga memberi rumah. Mungkin itu bisa menghiburnya, membantu beban pikirannya yang sedang berat. Bukan rumahku sebenarnya. Bang Ameng tadi pagi singgah ke kantor, ternyata meninggalkan map berisi dokumen pembelian rumah yang dia tawarkan padaku. Rumah yang dibangun developer teman bisnisnya itu. Meskipun saya sudah menolak. Saya sudah juga beres dengan urusan pembelian rumah di kompleks yang sama dengan skema kredit. Meski harus dengan sedikit akal-akalan orang keuangan. Gaji saya tiga bulan terakhir dibesarkan supaya lolos dalam penilaian bank. Tiga puluh persen dari besaran gaji minimal sama dengan cicilan kredit. Kenapa harus berbohong begitu, tanyaku? ”Karena standar gaji kita memang kecil,” kata manajer keuangan kami.

BACA JUGA  Menuju Panggung Asia: 12 Srikandi Muda Voli Indonesia Masuk Pelatnas

Saya hampit membatalkan pengajuan kredit itu. Manajer keuangan kami meyakinkan yang penting saya bisa mencicil tiap bulan. ”Mas Dur kan dapat tambahan penghasilan dari komisi iklan tiap bulan,” katanya. Saya mulai mencicil uang mukanya.

Mata Ferdy berair. Ia bercerita tentang rumahnya yang dibakar massa saat kerusuhan panjang Ambon. Satu kompleks perumahan. Rumah yang belum lama ia tempati. Rumah yang juga ia beli dengan kredit.

BACA JUGA: Siapa Membunuh Putri (9)

”Sementara tinggal di rumahku saja, tak apa, sampai rumah kita selesai,” kataku.

Dengan headline yang berbeda koran kami hari itu unggul lagi. Laris manis. Jadi rebutan agen dan pengecer. Belum jam 12, koran kami sudah habis. Di mana-mana orang membahas berita kami. Juga di siaran pagi radio lokal.

BACA JUGA  Misi Emas Porprov X: Skuad Voli Putra Surabaya Mulai Terbentuk

Mayat Putri segera diterbangkan ke Palembang, kota kelahirannya. Orang tuanya, terutama ibunya rupanya kemarin bikin jumpa pers di Polda. Nyaris semua koran selain koran kami memberitakan jumpa pers itu. Kami tak dapat berita itu, karena Ferdy tak datang ke Polresta siang kemarin, saat jumpa pers tersebut. Di depan wartawan ibunya Putri menangis dan membuat pernyataan agar polisi segera menemukan pelakunya. Suaminya, ayah Putri, yang pernah jadi Kapolda di Palembang itu hanya diam. AKBP Pintor juga muncul di hadapan wartawan. Aku memperhatikan wajah-wajah itu.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.