Ferdy datang dengan cemas. Dia tergagap dan gugup ketika hendak mulai bicara. Lelah dan pucat. ”Udah makan belum?” tanyaku bercanda sebenanrya. Tapi tampaknya dia memang lapar. Ada satu bungkus nasi goreng tadi kubeli, sudah dingin. Aku bagi dua dengannya, kami makan dengan lahap.
”Maaf, Bang. Saya merepotkan sekali,” kata Ferdy setelah agak tenang.
Dia bercerita tentang istrinya yang nyaris keguguran. Pendarahan parah tadi pagi. Untung lekas pergi sendiri ke klinik. Ferdy menyusulnya. ”Istriku stres, Bang. Kami kan numpang di rumah keluarga istri saya. Mereka keluarga muslim. Kayaknya mereka tak nyaman dengan saya. Saya ini kan Kristen. Makanya saya terima kasih sekali abang kasih saya tumpangan sementara di rumah abang,” kata Ferdy.
BACA JUGA: Siapa Membunuh Putri (10)
Aku terdiam sebentar. Membiarkan Ferdy menghabiskan kesedihannya dengan sedikit kegembiraan itu. ”Istrimu harus dirawat?” akhirnya aku menemukan pertanyaan itu.
”Harusnya, Bang. Tapi tadi saya tak ada biaya.”
”Wah, jangan, dong. Opnamelah. Nanti dirawat ya, sampai sembuh. Selamatkan istrimu, selamatkan janin anakmu. Jangan pikirkan biayanya. Nanti kita cari,” kataku.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi