Rupanya Effendi agak baper, alias terbawa perasaan. Dia kemudian agak keluar dari kontrol dan menyebut TNI seperti ‘’gerombolan’’. Simbolon juga menyebut TNI seperti ormas. Pernyataan inilah yang kemudian memicu Jenderal Dudung untuk bereaksi keras.
Isu perpecahan antara dua jenderal itu sudah ditepis, meskipun tepisan itu tidak terlalu meyakinkan. Bola kemudian bergulir liar, karena Jenderal Dudung terekam memerintahkan anak buahnya untuk memberikan respons kepada Simbolon.
Isu perpecahan dua jenderal akhirnya tenggelam oleh pernyataan gerombolan oleh Simbolon. Reaksi keras dari kalangan TNI bermunculan. Ada prajurit TNI yang mengancam akan mencari Simbolon. Ada komandan Korem yang mengatakan tidak terima atas pernyataan Simbolon, dan masih banyak lagi pernyataan keras oleh TNI terhadap Simbolon. Merasa terdesak, Simbolon akhirnya meminta maaf.
Persoalan tidak berhenti sampai di situ. Pernyataan Jenderal Dudung yang meminta anak buahnya memrotes Simbolon sekarang menjadi isu baru. Jenderal Dudung dianggap tidak proporsional dalam menyikapi pernyataan Simbolon. Jenderal Dudung yang menggerakkan anak buahnya untuk memrotes Simbolon dianggap tidak memahami supremasi sipil atas militer.
Bola sekarang berbalik arah. Muncul serangan balik terhadap Jenderal Dudung dari beberapa arah. Usman Hamid dari Amnesti Internasional Indonesia menuding Jenderal Dudung melakukan pembangkangan sipil. Jenderal Dudung dianggap tidak memahami prinsip supremasi sipil atas militer.
Kecaman juga datang dari pengamat militer Connie Rahakundini Bakrie, yang menyebut Dudung telah melakukan penyalahgunaan kekuasaan atau abuse of power. Jenderal Dudung dianggap tidak patuh terhadap supremasi sipil. Jenderal Dudung dianggap telah melakukan kegiatan politik dan tidak fokus pada tugas TNI sebagai kekuatan pertahanan negara.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi