Skenario kedua, Jokowi bertahan hingga 2024, namun gagal untuk menjadi Presiden periode ke-3. Sekalipun melemah, Polri gagal direformasi dan menjadi instrumen Jokowi untuk mendukung Ganjar Pranowo memenangkan Pilpres dengan marjin tipis atas dukungan sisa oligarki. Ummat Islam akan tetap tertekan, Polri tetap brutal, sementara TNI makin kehilangan jati dirinya.
Skenario ketiga, TNI berhasil bangkit merebut jiwa Sapta Marganya, mengambil hati rakyat, terutama ummat Islam, didukung banyak partai politik sekaligus mendorong reformasi total atas Polri. Dengan dukungan AS, TNI juga berhasil menjaga jarak dengan Presiden yang selama ini terlalu dekat dengan Polri dan China. Jokowi jatuh sebelum 2024 kecuali mengakomodasi aspirasi TNI yang menghendaki kembali ke UUD45 naskah asli. Oligarki pendukung Jokowi retak dan terus melemah karena ikut terkena depresi. Lalu dipimpin Gatot Nurmantyo TNI bersama ulama dan tokoh-tokoh masyarakat membentuk pemerintahan sementara untuk mempersiapkan Pemilu 2024. Dengan endorsement Habib Rizieq Shihab, prospek pasangan Anies Baswedan dan Andika Perkasa menjadi pemimpin baru Republik ini sangat besar.
Melihat rangkaian protes kenaikan harga Petralite dan solar oleh mahasiswa, buruh, dan emak-emak yang hampir merata di seluruh Indonesia, skenario pertama memiliki peluang terjadi cukup besar. Skenario kedua memiliki peluang yang sedikit lebih besar terjadi. Skenario ketiga juga memiliki peluang cukup besar di samping skenario yang lebih disukai AS dan ummat Islam. Determinasi ummat Islam untuk ber jihad fii sabillah dan TNI untuk mengambil peran perubahan yang lebih besar akan menentukan skenario mana yang akan wujud. Wa Allahu a’lam bi shawab. (*)
Editor: DAD

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi