Syed Alatas mengaji budaya masyarakat pribumi di Filipina, Malaysia, dan Indonesia. tetapi, fokus kajian Syed Alatas adalah Indonesia di masa penjajahan Belanda. Alatas adalah ilmuwan Malaysia kelahiran Bogor, Indonesia. Dia memahami konteks budaya kedua negara dengan sangat baik.
Ia menemukan bahwa dalam dokumen Belanda sejak abad ke-17 hingga ke-18 amat sedikit yang menyinggung kemalasan pribumi. Baru setelah diterapkannya sistem Tanam Paksa, mulai muncul tuduhan dari kolonial mengenai malasnya masyarakat pribumi terutama di Jawa.
Sisten tanam paksa memungkinkan Belanda mengatur langsung tenaga kerja di Jawa. Mereka dipaksa menanam berbagai jenis tanaman yang bernilai ekspor tinggi dengan target-target yang sangat membebani. Kebijakan itu dijalankan dengan tangan besi dan banyak korban berjatuhan akibat kebijakan itu.
Perang Diponegoro, atau yang sering disebut sebagai Perang Jawa, yang berlangsung pada 1825-1830 membuat Belanda nyaris bangkrut karena harus mengelurakan biaya tinggi untuk mengatasi perlawanan Pangeran Diponegoro. Setelah perlawanan bisa dipadamkan, Belanda harus memutar otak untuk mengatasi kas yang kosong. Perang sedahsyat itu sebelumnya tidak pernah dihadapi Belanda di Jawa. Itulah yang memicu Belanda untuk menerapkan Tanam Paksa.
Korban jiwa mencapai 200 ribu orang Jawa dan 8.000 tentara Belanda. Tak kurang dari 20 juta gulden Belanda habis demi memadamkan perjuangan Pangeran Diponegoro. Untuk menyelamatkan kas negara, Amsterdam menugaskan gubernur jenderal yang bertabiat keras dan tidak kenal belas kasihan. Maka dipilihlah Jenderal Van den Bosch sebagai gubernur jenderal Hindia Belanda.
Van den Bosch menerapkan politik tanam paksa dengan sangat keras. Hubungan penjajah dengan bangsa yang terjajah semakin buruk dan gap kaya miskin semakin lebar. Hubungan sosial antara penjajah dengan terjajah memburuk karena stigma penjajah yang menganggap warga pribumi malas dan tidak bisa bekerja sesuai standar yang diterapkan oleh penjajah.
Tuduhan-tuduhan yang tak mendasar kian gencar tertuju kepada masyarakat Jawa. Van den Bosch malah membuat stigma bahwa nalar bangsa Jawa tak ubahnya bocah Belanda usia 12 atau 13 tahun. Terjadi perdebatan politik keras di parlemen Belanda. Sebagian politisi Belanda membela politik tanam paksa dengan argumen negatif bahwa masyarakat Jawa lebih suka kerja paksa daripada kerja bebas. Orang Jawa lebih bahagia ditindas daripada bebas menentukan pilihannya sendiri.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi