Kamis, 7 Mei 2026, pukul : 21:32 WIB
Surabaya
--°C

Awal Pekan di Perdagangan Asia, Harga Minyak Turun karena Kekhawatiran Resesi

JAKARTA-KEMPALAN: Di awal perdagangan Asia pada hari Senin (8/8/2022), harga minyak melayang hampir di posisi terendah multi-bulan karena munculnya kekhawatiran resesi sehingga dapat merusak prospek permintaan.

Selain kekhawatiran resesi, penyebab lainnya adalah karena data impor minyak mentah China pada bulan lalu menunjukkan pemulihan yang lambat.

Minyak mentah berjangka Brent ambles sebesar 0,8 persen atau 74 sen dan pada pukul 00.39 GMT diperdagangkan di level 94,18 dolar AS per barel.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS anjlok sebesar 0,8 persen atau 67 sen dan per barel diperdagangan di level 88,34 dolar AS. Angka tersebut menunjukkan adanya kelanjutan penurunan pada minggu lalu, yaitu 9,7 persen.

Data bea cukai menunjukkan bahwa importir minyak terbesar di dunia, yaitu China telah melakukan impor sebesar 8,79 juta barel per hari (bph). Angka tersebut naik dari level terendah pada empat tahun yang lalu, tetapi masih rendah sebanyak 9,5 persen dibandingkan tahun lalu.

Pabrik penyulingan China melakukan penurunan stok di tengah harga minyak mentah dunia yang tinggi dan margin domestik lemah. Padahal, negara tersebut sedang mendapatkan momentum dalam hal ekspor.

Berkaca dari permintaan bensin di AS yang lebih rendah dan strategi nol Covid-19 yang membuat pemulihan di China lebih lanjut, ANZ melakukan revisi terhadap perkiraan permintaan minyak untuk tahun 2022 sebesar 300.000 barel per hari dan 2023 sebesar 500.000 per hari.

Pada tahun 2022, permintaan minyak diperkirakan naik sebesar 1,8 juta per harinya dan akan stagnan di level 99,7 juta barel per hari. Namun, angka itu masih tetap berada di bawah level tertinggi sebelum pandemi.

Walaupun terdapat embargo dari Uni Eropa pada 5 Desember, ekspor minyak mentah dan juga produk minyak Rusia terus mengalir.

Di samping itu, data yang dilansir dari Kompas.com data ketenagakerjaan Amerika Serikat pada minggu lalu, bulan Juli AS menciptakan sebanyak 528.000 lapangan kerja non-pertanian.

Data tersebut jauh lebih tinggi jika dibandingkan pada bulan Juni 2022 dan ekspektasi pasar yang masing-masing sebesar 398.000 dan 250.000.

OPEC+ telah sepakat untuk meningkatkan target produksi minyaknya mulai bulan September, yaitu per hari (bph) sebesar 100.000. (Antara/Kontan/Suara, Arlita Azzahra Addin)

Editor: Reza Maulana Hikam

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.