JAKARTA—KEMPALAN: Tiga petinggi partai politik yaitu Surya Paloh, Sohibul Iman dan Agus Harimurti Yudhoyono nampak duduk sederet satu meja di acara pernikahan putri dari Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan.
Pengamat komunikasi politik Universtas Jember (Unej) Dr. Muhammad Iqbal mengatakan, persepsi publik sah-sah saja mengartikan posisi duduk ketiga tokoh partai ini sebagai simbol koalisi menuju Pilpres 2024.
“Meski terkesan terlalu dini mempersepsikan yang demikian. Sudah biasa dan wajar saja di setiap resepsi pernikahan bisa dihadiri oleh siapapun orang yang diundang,” kata pria yang akrab disapa Cak Iqbal, Sabtu, 30 Juli 2022.
Namun setidaknya, resepsi pernikahan anak Gubernur DKI Jakarta itu bisa membawa pesan politik yang tak biasa. Hal ini bisa saja dijelaskan secara ilmiah melalui metode semiotika politik.
“Semiotika itu ilmu yang mempelajari tentang tanda dan bagaimana cara tanda bekerja membentuk makna,” imbuh Cak Iqbal.
Salah satunya teori semiotika Roland Barthes yang mampu menguraikan makna denotatif, konotatif dan bahkan memaknai mitos.
Dijelaskan Cak Iqbal, memaknai berarti bahwa objek-objek yang ada tidak hanya memberikan informasi, tapi sekaligus juga hendak berkomunikasi. Bahkan mampu mengkonstitusi sistem terstruktur dari semua tanda yang ada.
“Makna denotatif merujuk pada makna harfiah suatu objek tanda. Konotatif melekat pada makna interpretasi,” imbuhnya.
Sedangkan mitos atau kepercayaan, jelas Cak Iqbal lebih lanjut, adalah keyakinan yang terbentuk dari bekerjanya makna denotatif dan konotatif.
Menurut Cak Iqbal, secara denotatif, yakni makna harfiah pada posisi duduk memang jelas mendeskripsikan bahwa ketiga tokoh parpol adalah representasi dari Partai NasDem, PKS dan Demokrat.
“Ketiga parpol ini sejatinya belakangan terlihat semakin intim dan intensif menjalin komunikasi politik,” tuturnya.
Maka, secara harfiah (denotatif), Surya Paloh, Sohibul Umam dan AHY duduk sederet satu meja ini bisa dimaknai sedang mengkonstitusi struktur tanda. Maknanya adalah membawa pesan di balik keakraban satu meja ada sinyal merajut kebersamaan.
Secara konotatif, ketika duduk sederet satu meja, arah maknanya cukup lugas menegaskan bahwa sedang terjadi suasana akrab merajut kebersamaan.
Dikatakan Cak Iqbal, memang itu bukan soal penegasan ke arah koalisi. Tetapi, sudah lazim biasanya seorang tamu undangan di acara resepsi cenderung memilih duduk atau berdampingan dengan yang dirasa paling akrab dengan dirinya.
“Agak jarang seseorang mendekati tamu yang kurang akrab apalagi tidak kenal kecuali untuk sekadar basa-basi berpura-pura,” imbuhnya.
Sementara itu secara mitos atau kepercayaan, dikatakan Cak Iqbal suasana akrab yang terbangun dengan memilih duduk satu meja merupakan sinyal awal ada keyakinan dari ketiga tokoh parpol ini untuk serius merajut koalisi di arena Pilpres 2024.
Akhirnya, duduk sederet satu meja memang punya seribu makna. Tapi, semiotika selalu punya cara untuk membongkar satu sinyal makna.
“Apakah ia apa adanya atau berpura-pura belaka. Tentu kita tunggu saja kapan waktunya tiba. Hanya soal waktu saja,” demikian Cak Iqbal. (kba)
Editor: Freddy Mutiara

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi