Pada separo era pemerintahan Soeharto Islam dimarjinalisasi, dan pada separo masa kekuasaan berikutnya Soeharto memberi ruang gerak yang lebih luas kepada Islam. Soeharto menunjukkan ekspresi keislaman dengan berangkat haji dan menciptakan peraturan dan lembaga-lembaga keislaman seperti Bank Muamalah.
Pemerintah otoriter selalu menciptakan ‘’hantu’’ yang dijadikan sebagai musuh bersama, sekaligus menjadi justifikasi untuk melanggengkan kekuasaan. Soeharto memainkan hantu komunisme untuk mendapatkan legitimasi dari kalangan Islam. Setelah itu Soeharto ganti menjadikan Islam sebagai hantu dan memburunya untuk kepentingan konsolidasi kekuasaan.
BACA JUGA: Damai
Diktator Filipina Ferdinand Marcos juga mamainkan isu hantu komunis untuk melanggengkan kekuasaannya. Pemberontakan perwira yang dianggap berafiliasi dengan komunis, seperti Kolonel Gringo Honasan, dijadikan dalih untuk menerapkan kondisi darurat. Marcos, sebagaimana Soeharto, akhirnya jatuh oleh people power Revolusi EDSA, 1986.
Di negara biang demokrasi seperti Amerika pun pernah muncul histeria nasional untuk membuat rakyat takut terhadap kekuatan tertentu. Bagi negara kapitalis liberal seperti Amerika isu komunisme menjadi dagangan yang sangat laris untuk dijual. Muncullah Senator Joseph McCarthy pada 1950 yang mengatakan bahwa dia punya data mengenai 200 orang pegawai Departemen Luar Negeri Amerika Serikat yang tercatat sebagai anggota partai komunis.
McCarthy menyerukan perang melawan komunisme dan menimbulkan ketakutan nasional yang meluas. McCarthy mengatakan bahwa Departemen Luar Negeri sudah dibajak dan disusupi kekuatan komunis, karena itu kebijakannya harus diwaspadai. Sejak itu ketakutan terhadap komunisme menjadi histeria nasional, dan McCarthy menjadi salah satu politisi yang paling terkenal di seluruh negeri.
Data McCarthy tidak pernah dibuka ataupun diverifikasi. Data itu juga seringkali naik turun, kadang ia menyebut angka lebih rendah, kadang lebih tinggi. Tapi, gaya oratoris McCarthy yang meyakinkan membuat publik percaya. Ia melambai-lambaikan selembar kertas ketika berbicara, dan menyebut daftar itu ada di tangannya.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi