Setelah berhasil menghancurkan PKI dan mengonsolidasikan kekuatan politik, Soeharto segera berpaling dari Islam dan menganggapnya sebagai ancaman serius bagi kekuasaannya. Upaya aktivis Islam untuk menghidupkan Partai Masyumi tidak diizinkan oleh Soeharto. Para pembantu terdekat Soeharto menginisiasi gerakan intelijen untuk menghancurkan kekuatan Islam politik. Salah satu yang paling legendaris adalah perburuan terhadap anggota-anggota organisasi Komando Jihad, sebuah organisasi yang diduga diciptakan oleh intelijen untuk mendiskreditkan Islam politik.
Paro pertama kekuasaan Soeharto ditandai dengan kebijakan yang sangat represif terhadap Islam. Soeharto memanfaatkan ABRI sebagai tulang punggung kekuasaannya sekaligus sebagai kekuatan untuk meredam Islam politik. Soeharto ialah maestro dalam menjaga keseimbangan politik. Ia menjaga semua kekuatan-kekuatan politik supaya tetap berada pada kontrolnya.
BACA JUGA: The Good, The Bad, and The Ugly
Situasi berubah pada 1990-an ketika ABRI mulai gerah terhadap kebijakan Soeharto, terutama setelah anak-anak Soeharto berbisnis dan mendapatkan banyak konsesi dan monopoli. Soeharto dengan cepat mengendus perubahan sikap ABRI itu. Maka Soeharto segera berpaling kepada Islam dan memainkan kartu lama untuk menjaga keseimbangan.
Di lingkungan ABRI pun terjadi faksionalisasi dengan munculnya ‘’ABRI Hijau’’ dan ‘’ABRI Merah Putih’’. Soeharto kemudian mengizinkan berdirinya ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) di bawah kepemimpinan B.J Habibie. ICMI pun menguasai birokrasi sehingga disebut sebagai ‘’birokrasi ijo royo-royo’’.
Pepatah politik mengatakan, ‘’You can do anything with bayonet except sit on it’’, kamu bisa melakukan apa saja dengan bayonet kecuali duduk di atasnya. Soeharto akhirnya tidak bisa mempertahankan kekuasaannya dengan ujung bayonet, dan akhirnya terguling oleh gerakan reformasi 1998.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi