JAKARTA–KEMPALAN: Kelompok relawan pendukung Anies Baswedan terus bertumbuhan. Sebegitu banyaknya, tidak sedikit pula simpul relawan yang memiliki keanggotaan dengan ciri khas atau segmentasi masyarakat tertentu sebagai pembeda dengan kelompok relawan lainnya.
Bahkan ada juga relawan yang tujuannya bukan untuk memperbanyak jumlah anggota dan simpatisan. Tapi khusus menyebarkan berbagai kebijakan dan keberhasilan Anies di media sosial. Misalnya, Poros Relawan Digitalis Anies (PRADA) Nusantara.
“Para pendukung (Anies) berlomba-lomba membuat komunitas relawan, buat struktur di mana-mana. Sementara yang fokus di segmen ini (media sosial) enggak ada,” jelas Wakil Koordinator Nasional PRADA Nusantara Lucyana Kartakusuma, Kamis malam, 21 Juli 2022.
Anies Baswedan memang menguasai percakapan di Medsos. Namun berdasarkan hasil analisa mereka, percakapan tersebut lebih banyak fitnah dan kebencian yang dialamat kepada Gubernur DKI Jakarta tersebut dibanding dengan prestasi dan kerja nyatanya.
Karena memang, para haters Anies sangat masif di media sosial.
“Kalau kita lihat percakapan di dunia maya, kita kurang banget kalau dibandingkan dengan ‘buzzer rupiah’. Mereka bisa berapa juta percakapan dalam waktu bersamaan. Kita, jangan kan untuk mengcounter, untuk berita baiknya Anies saja enggak ada di dunia maya,” ungkapnya.
Berangkat dari kegelisahan percakapan di medsos yang cenderung dikuasai oleh kelompok yang selalu menebarkan kebencian dan fitnah kepada Anies itulah mereka membentuk Prada Nusantara.
“Akhirnya kita sepakat, dari beberapa orang, kita bentuk PRADA Nusantara. PRADA Nusantara fokus di medsos menyebarkan kabar baik AB (Anies Baswedan) agar Indonesia tercerahkan dengan kerja-kerja positif yang telah dilakukan AB,” paparnya.
“Apalagi harus ada kekuatan udara, selain darat. Karena kalau kita mau menggiring opini, dimulai dari udara itu yang lebih cepat. Medsos cakupannya luar biasa,” katanya lagi.
Ari Saptono sebagai pendiri/konseptor, Akmal Fikri menjadi Koordinator Nasional, serta dirinya didapuk menjabat Wakil Koordinator Nasional, PRADA Nusantara resmi dibentuk sekitar dua bulan lalu. Selain itu, untuk memperkuat tim, PRADA Nusantara juga memiliki divisi-divisi lainnya.
“Kita ada content creator, ada litbang (penelitian dan pengembangan). Saya sebenarnya (memegang) di jaringan,” paparnya.
Sejauh ini, PRADA Nusantara masih bermain di tiga platform media media sosial. Yaitu, Twitter, Facebook, dan TikTok. Produknya berupa meme dan video. “Satu hari satu, dan bisa juga dua (meme dan video) kita produksi,” bebernya.
Materi meme dan video singkat seputar prestasi dan karya nyata Anies Baswedan tersebut mereka ambil dari sumber-sumber resmi, baik dari Pemprov DKI Jakarta, media sosial Anies Baswedan, juga media-media mainstream.
“Jadi semua (sumbernya) official, bisa dipertanggungjawabkan,” tegasnya.
Selain disebar di berbagai akun PRADA Nusantara di Twitter (@pradanusantara, @NyataNyataKerja), Facebook (@PradaNusantara), dan TikTok (@kabarbaikanies4511), relawan juga menyebarluaskannya lewat berbagai grup percakapan Whatsapp.
Makanya, dia setiap hari termasuk yang menyebarkan meme dan video Prada Nusantara di berbagai grup WA yang ia ikuti.
“Kalau dikata orang kita buzzer, ya buzzer. Tapi buzzer lillahi taala. Buzzer 0 Rupiah. Yang kita syiarkan itu hanya kebaikan, kabar baik Anies Baswedan untuk Indonesia,” ucapnya sambil tertawa.
Dia menyebut mereka sebagai buzzer lillahi taala dan buzzer 0 Rupiah, karena memang PRADA Nusantara benar-benar dilandasi oleh idealisme agar Indonesia menjadi lebih baik kalau dipimpin orang baik seperti Anies Baswedan.
Mereka pun membiayai sendiri semua kegiatan PRADA Nusantara.”Enggak ada siapa-siapa di belakang kita, enggak ada bohir,” katanya sambil tertawa kecil lagi. (kba)
Editor: Freddy Mutiara

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi