Selanjutnya, setiap bukti seperti residu, serpihan cat, atau bahan lain dikumpulkan dari permukaan luar tubuh. Juga diteliti, bekas luka sayat atau luka tembak, luka memar, dan jahitan (jika jenazah pernah diotopsi sebelumnya).
Alat perekam suara, jadi standar dokter forensik pemeriksa, sambil bicara di alat perekam itu. Juga, isian formulir pemeriksaan standar.
Seandainya ada tembakan dan pelurunya bersarang, pasti akan dilakukan pemeriksaan dalam. Atau pembedahan.
BACA JUGA: Pelecehan Seks Ini Direkam CCTV
Pemeriksaan dalam. Jenazah diberi bantalan head block (terbuat dari karet). Tapi, penempatannya bukan di kepala seperti orang hidup sedang tidur. Tidak. Melainkan di bawah bahu.
Sehingga bagian dada menonjol, jika mayat masih baru meninggal, atau belum kaku. Gunanya untuk memudahkan pembedahan di dada.
Untuk jenazah yang sudah kaku, tidak diperlukan head block. Melainkan, bisa langsung bedah.
Proses bedah tak perlu diurai. Karena tidak etis. Terutama bagi keluarga korban. Intinya, semua organ dalam diperiksa. Dianalisis. Setelah selesai, dikembalikan ke tempat semula.
Kemudian luka dijahit. Sampai bodi tampak utuh kembali. Kemudian dimakamkan lagi.
Di kasus Yosua, tim Polri bentukan Kapolri, Jenderal Listyo Sigit Prabowo, juga peneliti dari eksternal yakni Kompolnas dan Komnas HAM, selama sepekan ini sudah bekerja. Mencari kebenaran fakta.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi