KEMPALAN: Polarisasi Pilgub DKI 2017 nampaknya masih tersimpan dendam bagi kelompok pendukung Ahok-Jarot. Nampaknya mereka belum bisa menerima kekalahan itu.
Untuk melampiaskan dendamnya, mereka menuduh kelompok pendukung Anies – Sandi sebagai Kadrun dan begitu juga sebaliknya, pendukung Anies-Sandi melabeli mereka sebagai cebong anak kodok, yang hidupnya berada dikubangan air keruh. Seolah menggambarkan hanya kekeruhan dan kegaduhan yang membuat mereka bisa mendapatkan uang untuk hidup.
Untuk memperkeruh suasana itu, maka mereka menjual stigma politik identitas yang ditujukan kepada pendukung Anies dengan tuduhan menjual ayat dan mayat, yang merujuk diseretnya Ahok ke penjara karena dianggap menghina Al Qur’an, Surat Al Maidah ayat 51 serta kebiasaan Anies hadir takziah pada warganya yang mengalami kesusahan.
Label inilah yang kemudian dimodifikasi dengan balutan teori Post Truth sebagaimana yang pernah disampaikan oleh Burhanuddin Muhtadi, kebohongan yang disebarkan secara berulang ulang akan dianggap menjadi kebenaran.
Teori inilah yang kemudian selalu ditujukan kepada Anies, dan tujuannya jelas, menghadang Anies agar tidak menjadi presiden. Isu jualannya adalah menuduh Anies menggunakan politik identitas.
Tuduhan Kadrun pun kini semakin menyempit hanya disematkan kepada pendukung Anies, tidak lagi kepada Sandiaga dan Prabowo. Sehingga terlihat sekali dendam dan kebenciannya akibat komitmen kerakyatan yang dibawah oleh Anies.
Seiring dengan semakin moncernya popularitas dan elektabilitas Anies untuk menjadi presiden Indonesia 2024, tentu saja ini akan menjadi kepanikan dan kegelisahan tersendiri bagi mereka. Mereka akan membayangkan kehilangan pundi pundi uang yang mereka dapatkan selama ini dari hasil menjual fitnah dan kegaduhan.
Deklarasi – deklarasi relawan dan dukungan terhadap Anies diberbagai pelosok daerah diseluruh Indonesia, tentu saja akan membuat kecemasan tersendiri. Maraknya deklarasi dan dukungan terhadap Anies diberbagai daerah, nampaknya berdampak kepada rasa percaya diri pendukung Anies yang begitu tinggi. Sehingga bagi sebagian mereka beranggapan bahwa tak perlu lagi bagi Anies merangkul dukungan dari mereka.
Padahal kalau bicara tentang realitas politik bahwa untuk memenangkan pemilihan presiden bila calonnya ada dua pasangan maka dibutuhkan suara 50 % + 1. Sementara kalau kita melihat realitas suara murni dukungan terhadap Anies belum bisa mencukupi ketentuan untuk bisa menang.
Sehingga dibutuhkan tambahan suara dari kelompok lain diluar pendukung murni. Itulah yang disebut dengan rasionalitas dalam berpolitik.
Namun sayangnya mereka yang berada dalam kutub rasionalitas politik dalam memenangkan Anies menghadapi dilema, satu sisi julukan kadrun dari kelompok kiri dan pembenci Anies, dan dituduh liberal dan sudah disusupi dari kelompok kanan, karena berupaya merangkul dukungan dari ceruk yang ada.
Kelompok rasional politik itulah bisa diidentifikasi oleh dua kelompok berseberangan sebagai “Kadrun Liberal”.
“Kadrun Liberal” inilah sejatinya pendukung ideolgis Anies, bagi mereka saat ini hanya Anies yang bisa diharapkan untuk menyelamatkan Indonesia dari keterpurukanya sekarang. Bagi kelompok ini siapapun wakilnya, Anies adalah presidennya.
Perjuangan memenangkan Anies adalah perjuangan memerdekakan Indonesia dari cengkraman tangan penjajahan oligarki dan pejabat culas yang berselingkuh.
Tentu saja perjuangan itu tak mudah dan akan selalu ada hambatan dan rintangan. Sehingga yang dibutuhkan adalah sebuah keberanian dan komitmen yang kuat. Komitmen akan memenangkan Anies untuk menyelamatkan Indonesia.
Komitmen inilah yang akan menjadi kekuatan untuk mempertemukan siapapun yang mencintai Indonesia.
Saat ini hanya Anies yang bisa diharapkan menyelamatkan Indonesia, bagi “Kadrun Liberal”, Siapapun wakilnya, Presidennya adalah Anies Rasyid Baswedan. Semoga! (*)
Editor: DAD

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi