Pandemi Covid-19 yang disusul dengan munculnya berbagai penyakit aneh lainnya tidak tertutup kemungkinan terjadi karena ada hubungannya dengan pemanasan global dan kecerobohan pengelolaan lingkungan. Melelehnya lapisan es di antartika bisa melepaskan berbagai macam virus yang sudah terpendam selama ratusan tahun menjadi penyakit baru yang sulit diatasi.
Seperti manusia, makhluk hidup lain juga memiliki rentang kenyamanan suhu untuk dapat berkembang biak, termasuk kuman, bakteri dan virus. Di bagian utara bumi, melelehnya es di kutub utara menyebabkan ikut terbawanya virus anthrax yang terpendam selama jutaan tahun, kemudian melanda hewan-hewan di hutan di sekitar wilayah itu.
Bisa saja ada hubungan antara makin sering timbulnya penyakit-penyakit baru di abad 21 ini–seperti Flu Burung, Flu Babi, Foot and Mouth Disease, Virus Hendra, Cacar Monyert–dengan iklim bumi yang kian menghangat.
Bumi makin panas membuat manusia butuh untuk mendinginkan diri untuk hidrasi tubuh, karena ginjal kita bisa rusak ketika dehidrasi. Tidak ada pilihan lain kecuali menggunakan pendingin udara atau AC. Pendingin udara saat ini sudah memakan 10% dari penggunaan listrik dunia, yang emisi karbonnya berkontribusi terhadap bertambah panasnya udara.
BACA JUGA: Hajatan
Kebakaran terjadi setiap saat di sekitar kita. Penyebabnya adalah korsleting listrik, itu saja penjelasannya. Tidak ada yang mengingatkan bahaya pemanasan lingkungan yang membuat benda-benda mudah terbakar.
Belum lagi kebakaran hutan yang rutin. Bila pohon mati karena alam atau ditebang, maka pohon akan melepaskan karbon ke atmosfer. Kebakaran hutan merupakan umpan balik iklim yang paling ditakuti. Kebakaran hutan menyebabkan panas yang makin tinggi. Indonesia yang lahannya mayoritas gambut memiliki risiko lebih besar untuk kebakaran.
Jumlah penduduk dunia sekarang 7,8 miliar, semuanya butuh makan. Padi-padian dan jagung menjadi bahan makanan pokok bagi 2/3 penduduk bumi. Saat ini suhu udara rata-rata di bumi sudah optimal bagi kehidupan jenis-jenis tanaman tersebut. Kalau panas bumi meningkat maka tanaman itu tidak bisa tumbuh dengan sempuran, sementara jumlah manusia tumbuh tiap tahun.
Laut dikelola dengan serampangan, atau tidak dikelola sama sekali. Rusaknya terumbu karang akibat limbah manusia merusak seperempat biota laut yang tergantung padanya. Sedikitnya setengah miliar manusia penghidupannya bergantung pada laut.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi