Mirza Mirwan
Mungkin banyak yang tidak tahu kalau Buya itu humoris. Kalau bercerita riwayat rumahtangganya, siapapun yang mendengar pasti geli. “Lif itu kan cantik, anak saudagar pula, kok ya mau jadi isteri orang miskin seperti saya,” kata Buya. Lif adalah panggilan isteri beliau, Nurkhalifah. Beliau juga memanggilnya “si Kecil”, karena perawakan Bu Lif yang kecil. Buya bilang, dulu menikahi Bu Lif tanpa modal — semuanya ditanggung mertuanya. Juga cerita bahwa rumahtangganya seperti kebanyakan rumahtangga lain. Sesekali terjadi juga pertengkaran kecil. Tapi begitu selesai bertengkar ya sudah. Tak perlu diungkit-ungkit lagi. Kalau mesti marah ya marah saja, jangan ditahan, nanti malah jadi penyakit. “Makanya saya itu heran, punya isteri satu saja ribut, gimana yang 3, 4, itu, ya!” kata Buya. Buya juga memuji Bu Lif sebagai sangat dermawan. Buya mengaku kalah soal kedermawanan itu. Itulah Buya Ahmad Syafii Maarif, Guru Bangsa, yang meninggal dalam usia 87 tahun (kurang 4 hari). Sebagai penerima Bintang Mahaputera Utama, Buya pasti tahu bahwa kalau meninggal ia berhak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Tetapi ia malah sejak Februari lalu sudah pesan ‘kavling’ di Pemakaman Muhammadiyah Khusnul Khatimah, di Kulon Progo. Kemarin itu saya sedih juga. Rencananya bakda Jumatan mau berangkat ke Yogya, tspi anak teman saya bilang jenasah Buya akan dimakamkan bakda Ashar. Jadinya hanya bisa Shalat Ghaib seusai shalat Jumat.
Akagami Shanks
Libur dulu bahas itunya. Besok saja. Mau menghormati ini dulu. Bukan itu poin kenapa saya ngeyel ini harus di bahas. Tapi ini saja sedikit bocoran. Pawang buaya harusnya berjaga. Supaya buaya-buya tidak melewati tembok pembatas. Jika sampai melewati tembok pembatas. Maka buaya-buaya akan gercep untuk membuka kulkas yang di dalamnya ada daging segar.
Waris Muljono
Semula hati saya “bombong” . Sy ini selevel sama buya, sang guru bangsa. Yaitu dlm hal sama sama pembaca disway. Semenit kemudian bombong saya ilang, ketika menyadari bahwa di level pembaca disway pun sy ga bisa di sandingkan dgn buya. Buya bisa langsung WA ke penulis disway, sy tidak. Utk menghibur diri, sy kembalikan bombong sy. Komentar sy di disway pernah jadi komentar pilihan, buya rasanya tak pernah. Heheh Lalu bombong sy ilang lagi. Karena komentar buya langsung ke WA , bahkan langsung di follow up. Bukan sekedar komentar, bahkan di buatkan tulisan obituary. Selamat jalan buya, sang guru bangsa
Juve Zhang
Sekalian turut berduka buat pak Ridwan Kamil yg anaknya hilang di sungai di Swiss, walaupun belum ketemu ,logika nya sulit bertahan di arus kuat dengan suhu dingin karena air lelehan salju. Beberapa hal kita catat dari berita. 1. Dilarang Berenang di sungai Aaree itu ditulis dalam 10 bahasa. Mengapa tidak baca pengumuman? 2. Istri pak RK dan anak wanita nya juga berenang , sungguh bahaya kalau semuanya hanyut. 3. Pak RK tidak mendampingi, kalau ada mungkin bisa ngasih warning, ingat kata kata Don Corleone, sang Godfather, “wanita dan anak anak boleh ceroboh, tapi Laki laki dewasa tidak boleh ceroboh”. 4. Eril anak Pak RK ke Swiss dalam rangka cari beasiswa buat S2, acungkan jempol buat niat cari beasiswa, biasanya kalau anak setingkat bupati/walikota saja malas nyari beasiswa karena di rumah sudah numpuk “cek ” ,”giro” ” emas batangan” “valas” berbagai negara, beasiswa itu sudah”kuno” menurut anak anak pejabat tinggi.
Komentator Spesialis
Bulan 5 baru awal musim panas. Bukan cuman air sungai. Buat kita di katuliatiwa kondisinya masih terasa dingin. Bisanya berenang itu bulan 7-8.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi