KEMPALAN : WHO (organisasi kesehatan dunia) mendefinisikan bahwa sehat adalah keadaan yang sempurna, baik fisik, mental, maupun sosial — tidak hanya terbebas dari penyakit atau kelemahan/cacat.
Sementara sakit adalah kondisi di mana terjadi ketidak-seimbangan dari fungsi normal tubuh manusia, termasuk sistem biologis dan kondisi penyesuaian (adaptasi).
Kalimat kutipan di atas saya baca pada halaman 120 dari buku berjudul Peranan Terapi Oksigen Hiperbarik (Penerbit Buku Kompas – xxxii + 160 halaman) yang ditulis oleh Kol. Laut (K) Dr. dr. Hisnindarsyah, Sp.KL.
Apa itu terapi oksigen hiperbarik?
Pada kover belakang buku ini, disebutkan bahwa ini merupakan metode pengobatan dengan cara menghirup oksigen murni dalam ruang udara berbentuk kapsul bertekanan tinggi lebih dari satu Atmosfer Absolut.
Secara prinsip, terapi ini memberikan suplai oksigen hingga tingkat seluler yang sempat terhambat akibat kerusakan pembuluh darah.
Lanjut paparan pada kover belakang buku tersebut :
Dengan terlarutnya oksigen langsung ke dalam plasma darah, sel-sel dan jaringan yang mati akan mendapatkan kembali suplai oksigen yang cukup, bahkan berlebih.
Efek dari terapi ini adalah sel-sel tubuh dapat segera kembali berfungsi normal.
Buku ini diberi pengantar oleh Laksda TNI (Purn) Prof.Dr. Ir. Supartono, M.M., CICaR. dan sambutan oleh Prof.dr.Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D.
*
Selasa 12 Mei 2025, di sebuah spot kuliner kawasan Surabaya Timur, bersama Achmad Zainuri sutradara teater penulis 2 judul buku dan peraih Anugerah Seniman Berprestasi dari Gubernur Jawa Timur tahun 2012, kami bertemu dengan sosok energik yang telah menulis 15 judul buku tersebut.
Saya mengenal sosok kelahiran 1971 pemilik 12 gelar kesarjanaan ini, sudah sejak 30 tahun lebih.
Saat masih pangkat letnan satu, kami sering bertemu di komunitas seni Bengkel Muda Surabaya di kompleks Balai Pemuda Surabaya.
Kemudian sekitar 10 tahun lalu, dipertemukan lagi oleh Sang Pemilik Hidup melalui Facebook. Di situlah kami sering berinteraksi, khususnya membincang seluk beluk literasi.
Dan, pada Senin siang itu, jumpa offline kembali. Maka, kurang lebih 1,5 jam kami bertiga ngobrol gayeng seputar dunia literasi dan seni.
Pada kesempatan tersebut, selain saya diberi souvenir buku yang saya bincangkan ini, oleh ayah dari dua orang anak yang dua-duanya dokter, juga buku satu lagi berjudul Aku dan Setengah Kematianku ( Penerbit Ecolistic Institute – xiii + 152 halaman).
Sebelum kami mengakhiri bincang gayeng siang yang sejuk mendung itu, sosok yang kesengsem puisi-puisi penyair Sapardi Djoko Damono ini, menyitir quote Socrates : Saya tahu bahwa saya tidak tahu. Karena itu, saya selalu berpikir untuk mencari tahu apa kebenaran itu. (Amang Mawardi).

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi