Senin, 8 Juni 2026, pukul : 02:49 WIB
Surabaya
--°C

Dilema Ganjar, dan Jalan Lempang Anies

Prabowo disebut paling pasti punya kesempatan maju, karena ia memiliki partai poltik sendiri, Partai Gerindra. Tinggal menggandeng satu-dua partai politik lainnya, dipastikan ia sudah bisa maju. Ditambah modal logistik yang dipunya, menjadikan Prabowo paling siap menuju 2024. Tinggal ia mencari Cawapres yang bisa mengunduh suara signifikan.

Sedang nasib Ganjar dan Anies, dua Capres paling potensial lainnya, jika dilihat dari elektabilitasnya yang tinggi, hasil beberapa lembaga survei politik, sedikit berbeda. Ganjar terutama, belum pasti ada parpol yang mengusungnya, jika PDI P kekeuh dengan putusannya mencalonkan Puan.

Anies tidak memiliki partai sendiri, pun Ganjar meski dibesarkan PDI Perjuangan, tapi ia tidak duduk dalam struktur kepengurusan partai. Anies dan Ganjar sama-sama bisa disebut tidak memiliki partai, meski elektabilitas tinggi. Terutama nasib Ganjar menjadi tidak menentu.

Ganjar memang tidak duduk dalam struktur kepengurusan partai, meski demikian ia identik dengan PDI P. Ganjar dilahirkan dan dibesarkan oleh PDI P. Bahkan naiknya ia sebagai Gubernur Jawa Tengah dua periode juga diusung oleh PDI P. Jauh sebelum itu, Ganjar juga anggota DPR-RI juga dari Fraksi PDI P. Bahkan Ganjar itu sudah aktif saat PDI P belum memakai embel-embel P (Perjuangan), PDI. Ganjar bisa disebut lebih PDI P ketimbang Presiden Jokowi. Tapi semacam Jokowi, Ganjar tetap saj disebut petugas partai. Karenanya, ia mesti tunduk dan berdiri tegak lurus dengan PDI P, partai yang membesarkannya.

BACA JUGA  Pemimpin Berwatak Maling (Bag-1)

PDI P sepertinya sudah bulat mencalonkan Puan Maharani untuk Pilpres di 2024. Soal ini sepertinya tidak lagi bisa ditawar-tawar. Akankah Ganjar nekat melawan partai yang membesarkannya? Jalan Ganjar Pranowo ada dalam dilema. Melawan partai yang membesarkannya, atau menerima saja nasibnya dengan mengubur elektabilitas yang dipunya. Waktu yang akan menentukan.

Jalan Anies tampak lebih lempang ketimbang Ganjar. Setidaknya beberapa parpol sudah menunggu waktu yang pas saja untuk mengusungnya. Setidaknya beberapa DPD dari beberapa parpol sudah terang-terangan mencalonkan Anies untuk ditetapkan Partai Induknya (DPP) sebagai Capres. Itu tampak pada beberapa DPD Nasdem dan PPP.

Beberapa parpol lain pun sudah ancang-ancang, dengan caranya masing-masing, akan mengumumkan mengusung Anies Baswedan. Disamping Nasdem dan PPP, setidaknya PKS dan PAN sepertinya juga akan mengusungnya. Bahkan tidak menutup kemungkinan akan diikuti juga Partai Demokrat, jika partai itu berpikir jangka panjang, setidaknya menambah kursi di parlemen.

BACA JUGA  ‘Democracy for Realists’: Pelajaran bagi Indonesia

Anies meski tidak berpartai; tidak memiliki partai, tapi justru menguntungkannya. Anies (seolah) memiliki banyak partai, Anies ada di antara partai-partai itu, atau setidaknya Anies dimiliki partai-partai pengusungnya, sebagai milik bersama. Pada calon lain, tidak memiliki partai itu jadi kesulitan tersendiri. Tapi tidak pada Anies. Unik.

Setidaknya pertengahan 2022, atau selambatnya awal 2023, bangunan koalisi parpol untuk mendukung Anies Baswedan akan terbentuk, dan diumumkan. Dan, akhir Oktober 2022, saat jabatan Anies selaku Gubernur DKI Jakarta berakhir, ia sudah dinanti untuk memulai langkahnya menuju RI 1. Jalan Anies Baswedan serasa lempang, meski onak duri di sana-sini disebar untuk mencederainya. Pada saatnya semua akan sampai dan berakhir dengan indah, sebagaimana yang diharap. Manusia berikhtiar, sedang Tuhan menetapkan dengan kepastian. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.