Menu

Mode Gelap

Kempalanda · 10 Mei 2022 09:07 WIB ·

Sang Pemimpin


					ILUSTRASI: (Foto: m.brilio.net) Perbesar

ILUSTRASI: (Foto: m.brilio.net)

KEMPALAN: Rasulullah SAW bersabda kepada Abdurrahman bin Samurah RA, “Wahai Abdullah bin Samurah ! Janganlah kamu meminta untuk menjadi pemimpin. Sesungguhnya jika kepemimpinan diberikan kepada kamu karena permintaan, maka kamu akan memikul tanggung jawab sendirian, dan jika kepemimpinan itu diberikan kepada kamu bukan karena permintaan, maka kamu akan dibantu untuk menanggungnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Setiap manusia yang terlahir dibumi dari pertama hingga yang terakhir adalah seorang pemimpin, setidaknya ia adalah seorang pemimpin bagi dirinya sendiri. Menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri maupun bagi banyak orang, adalah amanah yang harus dilaksanakan dan dijalankan dengan baik, karena kelak Allah SWT akan meminta pertanggung jawaban atas kepemimpinan itu.

Menjadi seorang pemimpin memang tidaklah mudah. Selain bertanggungjawab atas orang-orang atau kelompok yang di pimpinnya, ia juga harus menjadi pribadi yang penuh solusi. Islam mengajarkan bahwa seorang pemimpin harus dapat dijadikan panutan atau suritauladan dalam mengaktualisasikan nilai-nilai agama dan moralitas Islam kehidupannya dengan memiliki keluhuran hati dan jiwa, rendah hati, jujur, tidak suka segala bentuk penindasan dan kekerasan, pemaaf dan penuh kasih sayang.

Berat memang bagi yang tidak amanah. Pemimpin adalah orang yang memiliki peran atau wewenang untuk memimpin. Seseorang diangkat sebagai pemimpin karena dianggap memiliki kemampuan lebih dalam menentukan tujuan dan tindakan kepada orang lain. Meskipun demikian, seseorang diangkat menjadi pemimpin tidak selalu karena memiliki gaya kepemimpinan yang bagus. Ada juga yang karena lebih baik daripada orang lain dalam hal nama baik ataupun juga materi.

BACA JUGA: Kapok Lombok

Keberadaan seorang pemimpin amatlah penting. Karena ia merupakan wadah untuk menciptakan kemaslahatan publik (al-mashlahah al-‘ammah). Di tangan seorang pemimpinlah ditentukan seperti apa nasib dan masa depan rakyat. Atas dasar itulah sehingga seorang kandidat pemimpin (dalam setiap tingkatan) harus memiliki kriteria-kriteria ketat yang pada dasarnya lebih banyak cenderung kepada aspek moralitas, karakter dan kepribadiannya.

“Ingatlah! Setiap orang adalah pemimpin dan akan dimintai pertangung jawaban tentang kepemimpinannya.” Demikian Sabda Nabi Muhammad SAW dalam sebuah Hadistnya. Ini sejalan dengan fungsi dan peran manusia di muka bumi sebagai khalifatullah, yang diberi tugas untuk senantiasa mengabdi dan beribadah kepada-Nya. Dalam Islam seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memiliki sekurang-kurangnya 4 (empat) sifat dalam menjalankan kepemimpinannya, yakni; Siddiq (Jujur), Tabligh (penyampai), Amanah (Bertanggung Jawab) dan Fathanah (Cerdas).

Apakah kita sudah mampu menjadi pemimpin yang baik bagi diri kita sendiri ? Sudahkah kita mampu berlaku jujur kepada diri kita sendiri tentang apa yang menguntungkan dan tidak menguntungkan ? yang baik dan yang buruk ?. Menyampaikan yang haq itu haq dan yang bathil itu bathil ? Bertanggung jawab dalam menjalankan tugas dan kewajiban serta cerdas dalam membuat perencanaan, visi, misi, strategi dan mengimplementasikannya dalam hidup dan kehidupan sehari-hari.?

BACA JUGA: Zuhud

Kita memang hidup bukan di zaman Amirul Mukminin Umar bin Khattab RA, dan tak akan pernah memiliki pemimpin sekelas beliau. Seorang sahabat yang mendapat julukan Al-Faruq langsung dari Rasulullah SAW. Al-Faruq memiliki arti orang yang bisa memisahkan antara kebenaran dan kebatilan. Ia juga dikenal dengan keteguhan prinsipnya, keberanian, ketegasan, serta keadilannya sebagai seorang pemimpin.

Umar bin Khattab RA dikenal sebagai pemimpin yang adil, Amanah, hidup bersahaja, pemberani dan tegas. Beliau tidak akan tinggal diam jika mengetahui dan menyaksikan kesewenang-wenangan. Beliau memiliki watak yang keras sampai dijuluki sebagai Singa Padang Pasir. Terlahir dari keluarga kelas menengah sehingga beliau bisa membaca dan menulis yang pada masa itu merupakan sesuatu yang jarang. Selama menjadi khalifah beliau tidak pernah duduk di singgasana megah sebagaimana raja yang daerah kekuasaannya begitu luas.

Sayyidina Umar bin Khattab RA sadar, kelak dihadapan Allah SWT tidak mau dimintai tanggung jawab sendirian. Beliau menjadi Khalifah ke dua dari tahun 634 sampai 644 Masehi atau 13 sampai 23 Hijriah menggantikan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq RA. Suksesi berlangsung wajar tanpa kudeta atau huruhara. Bukan pula karena adanya permintaan dan ambisi pribadi ataupun permainan kotor Umar bin Khattab RA untuk menggantikan Abu Bakar RA. Semua terjadi dan berjalan sesuai sebagaimana seharusnya, sesuai Sunnatullah.

“Ya Allah, nampakkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan berilah kami kemapuan untuk mengikutinya dan nampakkanlah kebatilan sebagai kebatilan dan berilah kami kemampuan untuk menjauhinya.”(*)

Editor: DAD

Artikel ini telah dibaca 74 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Kunci Ketenangan

17 Mei 2022 - 07:50 WIB

Demo Mahasiswa dan Reproklamasi Republik

15 Mei 2022 - 07:43 WIB

Oligarki Merampas Masa Depan Mahasiswa

14 Mei 2022 - 09:38 WIB

Melbourne Kota Ternyaman Dunia namun Kejam bagi Perokok

12 Mei 2022 - 10:46 WIB

Dari Peringatan Seabad Rosihan Anwar: Wartawan Sekaligus Pelaku Sejarah

11 Mei 2022 - 13:00 WIB

Berulang Tahun di Melbourne, I’am Back

10 Mei 2022 - 16:48 WIB

Trending di Kempalanda