Senin, 4 Mei 2026, pukul : 14:52 WIB
Surabaya
--°C

Kami Tidak Berpelukan, Kami Saling Maki: Sebab “Bangsat” Kadang Lebih Jujur daripada “Apa Kabar”

Lelaki bukan tidak punya emosi. Kami hanya menyimpannya di tempat yang aneh. Tidak keluar lewat pelukan, tapi lewat ejekan. Tidak lewat air mata, tapi lewat ketawa yang terlalu panjang untuk hal yang sebenarnya tidak lucu-lucu amat.

OLeh: Geisz Chalifah

KEMPALAN: Di media sosial, saya sering melihat tayangan pertemuan kembali: perempuan yang berlari, berteriak, kemudian tenggelam dalam pelukan setelah bertahun-tahun tak berjumpa.

Ada yang sampai menangis seolah waktu runtuh di satu titik, lengkap dengan backsound yang kalau ditambah slow motion tinggal tunggu masuk FYP.

Itu indah. Itu wajar. Tapi bukan itu yang saya kenal.

Beberapa kali saya bertemu teman lama terutama teman SMA tidak ada adegan dramatis, tidak ada pelukan, tidak ada air mata. Yang muncul justru kalimat yang meledak tanpa aba-aba.

“Si bangsat, ke mana aja lu?”

Volume langsung 100 persen. Emosi juga. Tanpa pemanasan.

Dan anehnya, itulah bentuk paling jujur dari rindu yang kami punya. Tidak ada basa-basi seperti “apa kabar”, karena kami bahkan tidak benar-benar peduli jawabannya. Kalau dia jawab, “baik,” saya juga tidak akan percaya.

Tradisinya memang bukan saling update hidup, tapi saling menghina dengan penuh kangen.

Tak ada keharusan terlihat hangat. Kami tidak perlu membuktikan kedekatan, karena kedekatan itu tidak pernah benar-benar pergi. Waktu boleh lewat, jarak boleh memanjang, rambut boleh mulai berkurang di area tertentu, tapi begitu bertemu, semua kembali ke titik semula. Kasar di permukaan, akrab sampai ke tulang.

Dan dia pun menjawab, dengan nada yang sama kerasnya. Biasanya disertai tawa yang lebih keras lagi. Lima menit pertama isinya saling maki. Kemudian, sepuluh menit berikutnya mulai nostalgia. Lima belas menit kemudian baru sadar umur udah jauh nambah.

Lelaki bukan tidak punya emosi. Kami hanya menyimpannya di tempat yang aneh. Tidak keluar lewat pelukan, tapi lewat ejekan. Tidak lewat air mata, tapi lewat ketawa yang terlalu panjang untuk hal yang sebenarnya tidak lucu-lucu amat.

Mungkin bagi orang lain, ini terdengar kasar. Bahkan sedikit tidak beradab. Tapi bagi kami, justru di situlah kehangatan bekerja tanpa perlu diumumkan.

Karena dalam pertemanan seperti ini, satu kalimat kasar sering kali berarti satu hal sederhana yang tidak pernah berubah.

Gue kangen, dan gue senang lu masih ada.

*) Geisz Chalifah, Aktivis Budaya

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.