Itu adalah ciri fundamental mereka. Sangat percaya kepada nilai-nilai keluarga dan menjaga keutuhan keluarga. Lihatlah Donald Trump, mantan presiden dari Partai Republik yang selalu dengan pede berbicara mengenai nilai-nilai keluarga, padahal pada saat yang sama dia kawin cerai.
Pemilihnya dari kalangan Kristen konservatif tidak peduli mengenai hal itu.
Orang-orang Kristen fundamentalis membuat Koalisi Kristen yang sangat kuat dan berpengaruh dipimpin oleh Pendeta Pat Robertson yang berpengaruh sekaligus kaya-raya.
Di Amerika agama menjadi ‘’civil religion’’ atau agama sosial yang lebih peduli kepada pemecahan masalah sosial sehari-hari. Sebaliknya, agama yang hanya dipahami sebagai agama formal saja, dengan fokus pada ibadah formal akan sulit menjadi kekuatan sosial untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kemanusiaan yang aktual.
Pada situasi tertentu kewajiban sosial bisa bernilai seribu kali lebih baik dibanding kewajiban personal kepada Tuhan. Agama yang bisa memberi inspirasi untuk mendorong kebajikan sosial akan menjadi kekuatan transformatif yang mengubah tatanan sosial menjadi lebih baik.
BACA JUGA: Sulaiman Al-Rajhi
Agama Kristen yang dipeluk mayoritas orang Amerika dan Eropa dianggap berjasa menumbuhkan Etika Protestan yang menjadi pondasi kapitalisme-liberalisme, yang terbukti bisa membawa kemajuan dan kejayaan masyarakat.
Shintoisme bisa membawa kemajuan dan kesejahteraan untuk Jepang, demikian pula Taoisme yang membawa kemajuan dan kesejahteraan di Korea, serta Konfusianisme yang membawa kehebatan China dan Singapura.
Islam seharusnya bisa menjadi kekuatan sosial yang memberi kontribusi kepada etos nasional seperti halnya yang dilakukan Kristen terhadap masyarakat Eropa. Mudik lebaran dan kedermawanan selama Ramadhan akan menjadi kekuatan transformasi yang besar jika dikelola secara benar dan profesional. (*)
Editor: DAD

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi