
Oleh: Hamid Abud Attamimi
Aktivis Dakwah dan Pendidikan, tinggal di Cirebon
KEMPALAN: “Cukuplah kematian sebagai nasihat.” (HR al-Thabrani, al-Baihaqi). Demikian sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. Pertanyaannya, mengapa harus kematian dan mengapa ia harus menjadi sebuah nasihat?
Dalam sabdanya yang lain, Rasulullah menyatakan: “Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan.” (HR Turmudzi, al-Nasa’i, Ibn Majah). Kematian adalah pemutus kelezatan, karena dengan itu manusia terputus mutlak dengan apapun yang terkait dengan kelezatan dunia, seperti keluarga, sahabat, kekayaan, jabatan.
Beberapa hari lalu sempat viral di dunia medsos, seorang jamaah di sebuah Majelis Ta’lim yang wafat dalam hitungan menit setelah dia bertanya pada Ustadz, tentang kemungkinan seseorang berjumpa dengan Rasulullah setelah wafat.
Subhanallah… kematian seakan benar-benar tak berjarak.
Sebuah nasihat atau peringatan selalu diperlukan, seperti firman-NYA yang artinya:
“Oleh sebab itu maka berikanlah peringatan, karena peringatan itu bermanfaat, ” (Q.S. Al A’laa, ayat 9).
Dan kematian amat layak menjadi sebuah nasihat, bahkan satu-satunya nasihat yang cuma sekali disampaikan untuk dialami, maka amat naif jika manusia tak mampu menjadikannya sebagai pelajaran.
Nasihat tak pernah terlambat untuk disuarakan atau disampaikan. Memberi nasihat adalah sebuah tugas dan kewajiban yang melekat pada diri seorang Muslim, lebih dari sekedar tanggung jawab sosial, tapi itu sebuah refleksi sikap mencintai sesama saudara seiman.
Kematian seolah…

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi