Cara kepolisian Indonesia sebagai institusi memperlakukan petugas wanita mereka ialah diskriminatif. Tidak hanya itu, rekan pria mereka sering terlibat dalam aktivitas yang sangat maskulin dan terkadang benar-benar misoginis. Kegiatan ini terkait erat dengan korupsi kelembagaan.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak petugas terlibat dalam penggalangan pendapatan di luar anggaran, seolah-olah untuk memenuhi kebutuhan. “Donor” bayangan sering kali mendukung petugas yang menjanjikan dengan tunjangan gaji tetap dan menyumbang untuk kegiatan polisi.
Perwira yang bijak terhadap jenjang karirnya dapat menjaga pos dan unit mereka tetap bertahan secara finansial. Petugas polisi wanita dirugikan oleh pendanaan di luar anggaran karena untuk memperoleh dukungan itu perlu terlibat dalam kegiatan yang membangun kepercayaan dan bersosialisasi dengan cara yang sangat maskulin. Ini berkisar dari sering mengunjungi “bar karaoke” dengan gadis-gadis hingga menghabiskan berjam-jam di luar kantor hanya untuk nongkrong. Itu adalah sesuatu yang harus diperjuangkan oleh petugas wanita, dengan rumah dan keluarga yang harus dirawat.
Petugas wanita yang saya ajak bicara mengatakan bahwa mereka secara aktif menghindari peran kepemimpinan karena mereka tidak bisa membawa dana dari luar anggaran. Jadi, bagi polwan, “tes keperawanan” dengan dua jari hanyalah langkah pertama yang memalukan dalam misogini yang dilembagakan.
Penembakan polisi
Tes keperawanan memang memalukan, tetapi amarah tentang hal itu mengungkapkan hak siapa yang dianggap penting oleh publik dan, sebaliknya, siapa yang tidak.
Seminggu sebelum HRW merilis laporannya tentang “tes keperawanan”, sebuah surat kabar lokal Jawa Timur Surya memuat berita utama: “Saya tidak lari tetapi mereka menembak saya”. Surya menghitung penembakan polisi di Jawa Timur dan mencatat 32 insiden, dengan tujuh orang tewas tahun ini saja (2014-red).
Jawa Timur bukan satu-satunya. Minggu ini ada penembakan polisi di Indramayu dan Cakung. Pekan lalu terjadi penembakan di Bekasi dan yang mematikan terjadi di Lombok.
Menurut hitungan saya, setiap tahun polisi Indonesia terlibat dalam lebih dari 500 insiden penembakan. Antara 80 dan 150 dari penembakan itu mematikan. Saya menghitung penembakan dengan memeriksa laporan berita nasional dan lokal, jadi jumlah ini kemungkinan sudah menyusut. Artikel berita tidak melaporkan kapan tersangka meninggal karena luka mereka.
Wawancara dengan…

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi