Maka inilah tulisan agak panjang tentang sesuatu yang dramatis, yang dua hari lalu tidak bisa dimuat —kegeser oleh minyak goreng. Sambil beri saya kesempatan untuk meluruskan pinggang.
*
Senjata Sunat
Lihatlah wajah di foto itu: mirip sekali dengan wajah remaja Indonesia. Rautnya, senyumnya dan ekspresinya.
Semua seperti wajah Melayu.
Saat melihat foto itu saya sampai berdoa dalam hati: semoga bukan orang Indonesia.

Namanya sih bukan nama Indonesia: Raymond Spencer. Tapi dari nama saja tidak bisa lagi ditebak. Kian ke zaman ini kian biasa anak Indonesia pun punya nama yang jauh dari bau Aryo Mbediun, Priyadi, atau Putu Leong. Umur Raymond: 23 tahun.
BACA JUGA: Nasib BLT
Anak ini tinggal di lantai lima apartemen AVA Van Ness, di bagian utara ibu kota Amerika Serikat, Washington DC.
Ia tinggal sendirian. Ups tidak. Ia punya teman khusus: enam senjata api. Salah satunya laras panjang. Senjata panjang itu ia pasang di atas tripod setinggi kaca jendela di kamarnya itu. Moncong senjata itu ia hadapkan ke jalan raya di bawah sana. Bisa juga diputar ke arah sekolah agak di samping gedung apartemen itu.
Dari kamar di lantai 5 itulah Raymond membidikkan senjata. Ia menembak siapa saja yang lewat di jalan itu. Juga menembak gedung sekolah. Lebih 100 peluru dimuntahkan. Seorang wanita muda, seorang lagi wanita 60 tahunan, dan seorang anak kecil terkena tembakan Raymond. Beruntung tembakannya kurang jitu. Para korban bisa dilarikan ke rumah sakit. Kondisi mereka stabil.
Begitu banyak kaca pecah: kaca toko roti, toko kaca mata, kaca di gedung sekolah, dan yang ada di sekitar situ.
BACA JUGA: Taruhan Draf
Kejadiannya: Jumat sore lalu. Sekitar jam 15.30. Itu jam ramai. Ketika anak sekolah waktunya pulang. Banyak juga yang menjemput mereka.
Di situ juga ada kampus universitas terkenal: Howard University. Ada juga sekolah The Edmund Burke.
Senjata laras panjang Raymond dilengkapi layar pengintai sasaran. Dengan tanda yang Anda sudah pasti tahu: garis silang. Untuk menandai sasaran yang akan ditembak sudah tepat di tengah garis silang itu.

Polisi memang segera menerima pengaduan. Rentetan tembakan itu sangat keras. Beruntun. Menakutkan. Lima bunyi tembakan terdengar berentetan. Lalu berhenti. Terdengar lagi lima tembakan beruntun. Berhenti lagi. Terus seperti itu. Sampai sekitar 100 kali tembakan.
Polisi kesulitan mencari sumber tembakan. Tidak ada orang membawa senjata di sekitar itu. Awalnya tidak disangka kalau penembakan kali ini bergaya sniper.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi