Kamis, 14 Mei 2026, pukul : 14:59 WIB
Surabaya
--°C

Palantir: Mata Digital Abad Ini

Esai tentang Palantir, cara kerjanya, perannya dalam perang modern, serta refleksi perbandingan dengan kisah Nabi Sulaiman dalam Islam.

Oleh: Ahmadie Thaha

KEMPALAN: Namanya diambil dari dunia fiksi, tetapi dampaknya terasa sangat nyata. Palantir, sebuah kata yang dipinjam dari batu pengintai dalam kisah The Lord of the Rings, alat milik Sauron untuk melihat jauh dan mengawasi siapa saja.

Ia metafora yang terlalu jujur untuk nama sebuah perusahaan. Tampaknya sejak awal ia memang tidak berniat menyembunyikan ambisinya: melihat segalanya, sebagaimana Anda menyaksikannya digugunakan Sauron.

Perusahaan ini lahir tahun 2003, didirikan oleh Peter Thiel – otak di balik PayPal –  bersama Alex Karp, Joe Lonsdale, Stephen Cohen, dan Nathan Gettings. Nama “Pal” di Palantir bukan sekadar kebetulan linguistik. Ia adalah jejak genetik.

PayPal adalah sekolahnya, tempat mereka belajar satu hal penting: data bisa mengungkap pola tersembunyi. Di PayPal, pola itu digunakan untuk mendeteksi penipuan.

Di Palantir, pola itu ditingkatkan skalanya – dari penipu menjadi teroris, dari transaksi mencurigakan menjadi target militer.

Jika PayPal membantu Anda mengirim uang dengan aman, Palantir membantu negara menentukan siapa yang harus diawasi, ditangkap, atau dalam beberapa kasus ekstrem – diserang.

Cara kerjanya tidak sesederhana “mengintai”. Ia lebih mirip mesin penggabung realitas.

Platform seperti Gotham mengumpulkan potongan-potongan data dari berbagai sumber: intelijen manusia dari agen lapangan, sinyal komunikasi yang disadap, citra satelit, rekaman CCTV, data imigrasi, transaksi finansial, bahkan jejak digital di media sosial.

Semua potongan itu, yang tadinya tercerai-berai di berbagai lembaga – CIA, NSA, FBI, militer – dikumpulkan, disatukan, kemudian dirajut menjadi satu narasi utuh.

Seorang manusia tidak lagi dilihat sebagai individu, tetapi sebagai jaringan relasi, yaitu: siapa temannya, ke mana ia pergi, apa kebiasaannya, siapa yang sering ia hubungi.

Di titik itu, mesin Palantir mulai “berpikir”. Ia mencari pola. Ia lantas mendeteksi anomali. Ia menyusun kemungkinan. Dari sekadar mengetahui, sistem ini beralih menjadi memprediksi. Dari memprediksi, ia memberi rekomendasi. Dan di ujung rantai itu, manusia bersenjata mengambil keputusan.

Dalam operasi militer modern itu, proses ini dikenal sebagai kill chain – rantai pembunuhan. Dulu, rantai ini lambat, bergantung pada laporan manual dan intuisi. Kini, dengan perangkat seperti Palantir, rantai itu dipercepat, dipadatkan, dan – ironisnya – dipoles menjadi lebih “rasional”.

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak, bukan untuk menolak teknologi, tetapi untuk membandingkan. Dalam khazanah kita, ada kisah tentang seorang nabi yang juga diberi “mata” – bukan mata biasa, tetapi kemampuan melihat yang melampaui batas manusia. Ia adalah Nabi Sulaiman ‘alaihis salam.

Namun “mata” Sulaiman bukanlah hasil rekayasa algoritma. Ia adalah anugerah Ilahi. Ia tidak digunakan untuk mengontrol, tetapi untuk menegakkan keadilan.

Ketika burung Hudhud membawa informasi tentang sebuah kerajaan, itu bukan sekadar intelijen, tetapi bagian dari hikmah dan amanah. Informasi tidak berdiri sendiri; ia terikat pada tanggung jawab moral yang langsung kepada Allah SWT.

Bandingkan dengan “mata” modern bernama Palantir. Ia bisa mengumpulkan segalanya, tetapi tidak memiliki wahyu. Ia memprediksi segalanya, namun tidak memiliki hikmah. Ia merekomendasikan tindakan, tapi tidak memikul tanggung jawab moral di hadapan Yang Maha Mengetahui.

Di sinilah perbedaan itu menjadi sangat tajam: antara penglihatan yang diberi untuk membimbing, dan penglihatan yang dibangun untuk menguasai.

Dalam konteks konflik seperti ketegangan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, sistem semacam ini memainkan peran yang tidak selalu terlihat di layar televisi. Ketika sebuah serangan presisi terjadi, seringkali di belakangnya ada analitik data yang menyaring ribuan kemungkinan target menjadi satu titik koordinat.

Dalam operasi Israel di Gaza, penggunaan sistem berbasis data untuk identifikasi target telah menjadi bagian dari strategi militer modern. Amerika Serikat sendiri mengakui penggunaan perangkat lunak analitik untuk mendukung penentuan target dalam operasi luar negeri.

Namun Palantir tidak berhenti di medan perang. Ia juga masuk ke ruang kota. Di tangan aparat penegak hukum, sistem ini digunakan untuk predictive policing – memprediksi kejahatan sebelum terjadi.

Di Los Angeles, data warga – alamat, hubungan sosial, aktivitas digital – kemudian dikumpulkan untuk memetakan siapa yang berpotensi akan menjadi pelaku atau korban. Sebuah kota berubah menjadi papan catur, dan warganya menjadi bidak yang dianalisis.

Pembeli mesin itu? Daftarnya panjang seperti katalog negara modern. Antara lain Departemen Pertahanan Amerika Serikat, CIA, NSA, FBI, hingga Immigration and Customs Enforcement telah lama memakai Palantir.

Di luar negeri, ada militer Inggris, pasukan Israel, Ukraina, serta berbagai institusi kepolisian di Eropa. Palantir tersebut tidak menjual aplikasi. Ia menjual kesadaran situasional – kemampuan melihat lebih cepat, lebih luas dan lebih dalam daripada lawan.

Dan di sinilah kita kembali ke Alex Karp dan manifestonya. Ketika ia menyerukan agar Silicon Valley berhenti membuat aplikasi dan mulai membangun kekuatan militer berbasis perangkat lunak, ia tidak sedang membuka jalan baru. Ia sedang memperluas jalan tol yang sudah dibangunnya sendiri.

Ia berbicara tentang republik, tentang tanggung jawab moral, tentang pertahanan peradaban Barat. Tapi di balik semua itu, ada logika yang lebih sederhana: dunia yang penuh konflik adalah dunia yang membutuhkan produknya.

Kita hidup pada zaman ketika mata-mata tidak lagi harus menyamar di kedutaan. Ia bisa berupa server di ruang dingin, memproses miliaran data setiap detik.

Penyusupan tidak lagi selalu melalui agen manusia, tetapi melalui integrasi sistem. Intelijen tidak lagi hanya laporan rahasia, tetapi dashboard interaktif dengan grafik dan peta.

Dan di tengah semua itu, Palantir berdiri sebagai simbol zaman: saat kekuasaan tidak hanya dipegang oleh negara, tetapi juga oleh perusahaan yang tahu lebih banyak daripada negara itu sendiri.

Maka pertanyaannya bukan lagi apakah teknologi ini akan digunakan. Itu sudah terjadi. Pertanyaannya adalah: ketika dunia bisa dilihat seperti peta digital yang rapi, apakah kita masih melihat manusia sebagai manusia – atau hanya sebagai titik yang bisa dipilih, disorot, dan jika perlu, dihapus?

Peristiwa ini memberi kita satu pelajaran yang sunyi tapi dalam. Bahwa setiap zaman punya “mata”-nya sendiri. Dulu, mata itu adalah amanah. Hari ini, ia berisiko menjadi alat.

Dan di antara keduanya, kita bakal diuji: apakah kita masih ingat untuk siapa sebenarnya kita melihat?

*) Ahmadie Thaha, Kolumnis

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.