Kamis, 14 Mei 2026, pukul : 13:59 WIB
Surabaya
--°C

Robohnya Kampus Kami: Universitas Indonesia

Yang lahir adalah generasi penakut. Generasi oportunis. Generasi yang lebih pandai membaca arah angin kekuasaan daripada membaca masa depan bangsanya sendiri.

Oleh: Agus M Maksum

KEMPALAN: Saya seperti tercekik. Sulit bernapas mendengarkan paparan Prof. Suzie Sudarman, dosen senior Universitas Indonesia.

Beliau bercerita datar. Tenang. Bahkan nyaris tanpa emosi berlebihan. Tetapi justru di situlah letak kedahsyatannya.

Karena yang beliau ceritakan bukan sekadar konflik kampus. Bukan sekadar soal statuta universitas. Bukan sekadar tarik-menarik kekuasaan akademik.

Yang beliau ceritakan adalah ledakan besar tentang bagaimana sebuah bangsa perlahan kehilangan benteng terakhir akal sehatnya.

Dan itu terjadi pada zaman Joko Widodo.

Bayangkan…

Kampus sebesar UI – simbol intelektualitas Indonesia, kampus yang telah melahirkan begitu banyak pemikir, teknokrat, ekonom, ilmuwan, aktivis, bahkan penggerak reformasi – menurut beliau perlahan dibuat tunduk pada kekuasaan.

Bukan lagi menjadi penjaga moral bangsa. Tetapi mulai diarahkan menjadi bagian dari orkestrasi kekuasaan.

Prof. Suzie bahkan menyebut hal yang sangat menggetarkan: bahwa di tubuh MWA UI ada orang-orang yang menurut beliau tidak sejalan dengan cita-cita kemerdekaan bangsa.

Bahkan beliau juga menyebut adanya ruang bagi penyusupan narasi dan pembicara-pembicara beraroma Zionis ke lingkungan kampus.

Terlepas orang setuju atau tidak dengan pendapat beliau, satu hal yang sulit dibantah: ada kegelisahan besar sedang terjadi di dunia kampus kita.

Dan kegelisahan itu nyata. Karena yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar siapa rektor. Bukan sekadar siapa Ketua MWA. Tetapi arah peradaban bangsa ini.

Universitas seharusnya menjadi tempat paling merdeka untuk beberpikir.

Tempat anak-anak muda diajarkan keberanian untuk mempertanyakan ketidakadilan. Tempat dosen dan profesor berdiri tegak menjaga moralitas ilmu pengetahuan. Tempat lahirnya inovasi, keberanian intelektual, dan kejujuran akademik.

Tetapi hari ini, menurut banyak kritik yang berkembang, kampus justru mulai dijejali rasa takut.

Takut berbeda pendapat. Takut mengkritik penguasa. Takut kehilangan jabatan. Takut kehilangan proyek. Takut kehilangan akses kekuasaan.

Dan bangsa yang kaum intelektualnya mulai takut berbicara… sesungguhnya sedang masuk lorong gelap sejarahnya sendiri.

Yang paling menyedihkan dari paparan Prof. Suzie bukan hanya soal politik kampus.

Tetapi ketika beliau menggambarkan bagaimana dosen-dosen senior hidup dalam tekanan ekonomi, birokrasi akademik yang mencekik, inovasi yang mati perlahan, dan kampus yang kehilangan marwah sebagai pusat peradaban ilmu.

Kita bicara soal Artificial Intelligence (AI). Kita bicara hilirisasi. Kita bicara Indonesia Emas 2045.

Tetapi kampusnya dibungkam. Profesornya sibuk administrasi. Dosen mudanya enggan masuk dunia akademik karena gaji kalah jauh dibanding korporasi.

Lalu kita bertanya: dari mana inovasi akan lahir? Negeri ini aneh. Kita ingin menjadi negara maju, tetapi ilmuwan diperlakukan seperti beban anggaran.

Kita ingin menjadi pusat teknologi, tetapi kampus lebih sibuk mengurus birokrasi dibanding riset.

Kita bicara kedaulatan bangsa, tetapi ruang intelektual justru diisi tarik-menarik kepentingan politik dan oligarki.

Dan yang lebih mengerikan…

Menurut Prof. Suzie, perubahan itu tidak hanya terjadi di UI. UI hanya role model.

Ketika kampus terbesar saja bisa dilipat oleh kekuasaan, maka kampus-kampus lain akan jauh lebih mudah dibentuk menjadi jinak.

Di sinilah saya mulai memahami satu hal penting: Kerusakan sebuah bangsa seringkali tidak dimulai dari runtuhnya ekonomi. Bukan pula dari jatuhnya nilai mata uang.

Tetapi dimulai ketika universitas kehilangan keberanian moralnya. Karena saat kampus sudah tidak lagi bebas berpikir, maka yang lahir bukan inovasi.

Yang lahir adalah generasi penakut. Generasi oportunis. Generasi yang lebih pandai membaca arah angin kekuasaan daripada membaca masa depan bangsanya sendiri.

Dan mungkin inilah tragedi terbesar kita hari ini. Gedung kampus masih berdiri megah. Jaket kuning masih dipakai. Wisuda masih berlangsung meriah.

Tetapi roh universitasnya perlahan dicabut. Universitas tidak lagi diposisikan sebagai mercusuar akal sehat bangsa.

Ia perlahan diubah menjadi terminal birokrasi kekuasaan. Dan ketika itu terjadi… sesungguhnya yang roboh bukan hanya kampus. Tetapi masa depan republik ini sendiri.

*) Agus M Maksum, Anggota MPUII (Majelis Permusyawaratan Ummat Islam Indonesia)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.