KEMPALAN: GANTENG-Ganteng Srigala (GGS) adalah salah satu serial sinetron paling populer di Indonesia. Diputar pada 2014 sinetron itu bertahan sampai lebih dari 500 episode. Kisahnya menceritakan sekumpulan anak-anak SMA yang berwajah ganteng tapi ternyata berasal dari keluarga srigala yang punya maksud jahat terhadap manusia.
Sinetron GGS menjiplak film box office sekuel ‘’Twilight Saga’’ yang dibintangi Robert Pattison dan Kristen Stewart. Film ini menceritakan tokoh Edward Cullen yang ganteng tapi keturunan vampire yang jatuh cinta kepada Bella Swan yang manusia murni.
Sinetron Indonesia tidak pernah malu menjiplak karya orang lain. Kali ini GGS bukan hanya menjiplak Twilight Saga mentah-mentah tapi menjiplak matang-matang, tanpa diolah langsung ditelan. Menjiplak mentah-mentah masih perlu proses mengolah, tapi menjiplak matang-matang tidak perlu mengolah dan langsung ditelan.
Twilight menghasilkan aktor yang mengandalkan tampang ganteng tanpa tuntutan kepiawaian akting. GGS juga menampilkan deretan pesinetron yang bermodal wajah ganteng dengan kemampuan akting seadanya. Dua-duanya sukses melambungkan nama bintang-bintangnya. Bedanya bintang Twilight berkembang menjadi aktor yang bagus, tapi bintang GGS tetap begitu-begitu saja. Robert Pattinson bermain bagus dalam ‘’The Batman’’, tapi bintang-bintang GGS tidak terdengar prestasi aktingnya.
BACA JUGA: Sulaiman Al-Rajhi
Fenomena jual tampang ala GGS muncul juga di dunia politik. Ada sederetan politisi ganteng yang populer dan gampang menarik perhatian publik, tapi mereka dicurigai sebagai jual tampang saja tanpa benar-benar punya komitmen untuk bekerja demi rakyat.
Kecurigaan kepada politisi GGS itu dilontarkan oleh Ketua PDIP Puan Maharani ketika berkunjung ke Wonogiri, Jawa Tengah. Puan menyoroti fenomena politisi GGS yang sekarang bermunculan. Menurut Puan sekarang banyak politisi ganteng yang disukai banyak orang tapi sebenarnya tidak bisa bekerja.
Politisi GGS itu sering muncul di media sosial dan rutin tampil di televisi. Tampilannya menarik dan menyenangkan, publik mudah terpukau dan terhipnotis. Tetapi, mereka tidak bisa bekerja dan tidak menunjukkan kontribusi yang kongkret kepada masyarakat. Publik akhirnya memilih politisi GGS karena ganteng dan menyenangkan ketimbang karena punya kualitas kerja yang mumpuni.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi