Kamis, 25 Juni 2026, pukul : 07:56 WIB
Surabaya
--°C

Jebakan Utang

Dalam operasi itu selalu dimunculkan niat luhur Amerika untuk mengurangi kemiskinan di negara dunia ketiga yang kaya akan sumber daya alam. Proposal itu mengajukan proyek besar pengelolaan sumber daya alam yang secara sepintas terlihat menguntungkan tuan rumah.

Perkins dan teman-temannya berperan sebagai agen spionase terselubung. Mereka membuat forekas ekonomi untuk suatu negara klien korporatokrasi–seperti telah dilakukan di Indonesia dalam proyek elektrifikasi Pulau Jawa sejak 1970-an–serta membantu penerapan skema ekonometrik yang akan mengucurkan dana jutaan dolar.

BACA JUGA: Demo Mbah Nun

Perkins memaparkan berbagai operasi besar dengan cara-cara yang amoral untuk menjebak dan menjatuhkan seorang kepala negara. Beberapa peristiwa dunia yang melibatkan operasi Perkins adalah  kejatuhan Syah Iran melalui revolusi Islam 1979, kematian tragis Presiden Panama, Omar Torrijos, dan invasi militer Amerika ke Panama dan Irak.

Karena skala operasinya sangat membutuhkan keahlian tinggi maka para agen ini benar-benar orang profesional yang bekerja secara sekretif dan mendapatkan bayaran sangat mahal. Operasi mereka sering melibatkan nilai miliaran dolar dari proyek-proyek multinasional.

BACA JUGA  Topeng Narsistik Makin Lihai Seiring Usia

Mereka menyalurkan dana dari Bank Dunia, Asian Development Bank (ADB), dan organisasi bantuan lainnya menjadi dana korporasi raksasa. Cara kotor yang dipakai antara lain rekayasa laporan keuangan yang menyesatkan, praktik penyuapan,  pemerasan, dan skandal seks. Para agen juga tidak segan membuat rencana pembunuhan yang keji.

BACA JUGA: Anies 4 President

Perkins memainkan peranan yang telah menentukan dimensi baru yang mengerikan dalam perang ekonomi di era globalisasi ini. Para agen ini bekerja berdasarkan pesan sponsor dari negara adikuasa yang berniat mewujudkan sebuah imperium global untuk melakukan penyesatan skema ekonometrik agar hasil forekasnya memenuhi syarat untuk memperoleh dana bantuan yang lebih menyerupai utang yang menjerat dan mencekik negara penerima.

Dana pinjaman yang begitu besar jumlahnya itu dikucurkan oleh negara kreditor melalui agen dengan tujuan utama sebagai alat untuk mencengkeram negara bersangkutan. Ketika sudah berada dalam cengkeraman utang maka negara itu menjadi target yang lunak ketika negara kreditor membutuhkan apa yang dikehendakinya, seperti pangkalan militer, suara di PBB, serta akses yang mudah untuk mengeksplorasi sumber daya alam, minyak bumi, gas, dan emas,  yang dimiliki negara penerima utang.

BACA JUGA  Tren Novel Online: Menantu versus Mertua

Dana korporasi global ini disalurkan melalui perusahaan Amerika dalam proyek perekayasaan dan konstruksi. Perkins menyebut di antaranya perusahaan multinasional Bechtel, Halliburton, dan Stone & Webster. Salah satu eksekutif Halliburton adalah Dick Cheney, wakil presiden Amerika Serikat di era George Bush senior.

Namun, tidak semua pemerintahan tunduk pada model corporatocracy yang dibangun para agen ini. Menurut Perkins, terdapat dua penguasa elite politik yang secara berani dan tegas menolak perselingkuhan bisnis dan politik dengan agen ini. Mereka adalah Presiden Panama, Omar Torrijos, dan Presiden Ekuador, Jaime Roldos.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.