KEMPALAN: KERUMUNAN orang berebutan berdesak-desakan sambil berteriak-teriak histeris. Ibu-ibu melambai-lambaikan tangan mencoba meminta perhatian, dan bapak-bapak merangsek untuk maju ke barisan paling depan.
Dalam beberapa bulan terakhir pemandangan semacam itu lazim terlihat di beberapa wilayah di Indonesia. Orang berdesak-desakan saling berebut mendapatkan jatah minyak goreng murah. Tapi, pemandangan yang terjadi di Yogyakarta Jumat (8/4) berbeda. Kerumunan massa yang berdesak-desakan bukan sedang berebut migor atau mengantre BLT, mereka berebutan untuk mendekat dan bersalaman dengan Anies Baswedan.
Kerumunan itu adalah jamaah yang mengikuti shalat tarawih di Masjid UGM (Universitas Gadjah Mada) Yogyakarta sebagai bagian dari kegaiatan Ramadhan. Sejumlah tokoh politik dan pemerintahan dijadwalkan memberi ceramah Ramadhan di acara itu. Selain Anies, tokoh lain yang memberi ceramah adalah Ridwan Kamil, Ganjar Pranowo, Mahfud MD, dan sejumlah lainnya.
BACA JUGA: Dialektika Digital
Bagi Anies, datang ke UGM adalah sebuah coming home, mudik ke kampung, mengenang saat-saat menjadi mahasiswa pada 1990-an. Sambutan terhadap Anies meluap dari jamaah yang mayoritas kalangan mahasiswa. Muncul teriakan dari kerumunan, ‘’Anies presiden..’’ yang kemudian menjadi koor bersama.
Episode di Masjid UGM ini merupakan sekuel dari antusiasme publik dalam menyambut Anies di berbagai kesempatan. Beberapa waktu sebelumnya Anies mendapat sambutan meriah dari publik ketika menonton balapan MotoGP di Mandalika (20/3). Hal yang sama terjadi ketika Anies datang ke Kalimantan Timur untuk menghadiri acara kemah di titik nol ibu kota Nusantara (14/3).
Fenomena Anies menjadi hal baru dalam lanskap politik Indonesia. Dua tahun menjelang pemilihan presiden bakal calon mulai bermunculan. Di antara calon-calon itu dua orang berada pada pole position terdepan, yaitu Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo. Dua-duanya alumnus UGM.
BACA JUGA: Harga Mati
Tentu saja Prabowo Subianto masih tetap menjadi kandidat yang diharapkan oleh publik. Dalam berbagai survei, tiga nama itu selalu konsisten muncul saling bersaing memperebutkan pole position. Nama-nama lain yang muncul tidak ada yang pernah bisa menggeser tiga nama itu.
Prabowo adalah kuda hitam. Tapi kuda putih yang sesungguhnya adalah Anies dan Ganjar. Prabowo mewakili masa lalu dan duo Anies-Ganjar adalah potret masa depan. Kegagalan Prabowo dalam dua kali race menjadi catatan kaki tersendiri bagi publik. Sementara Anies dan Ganjar yang lebih fresh menjadi tumpuan harapan akan perubahan.
Anies dan Ganjar sudah mempunyai trade-mark masing-masing. Dalam setiap kesempatan publik Ganjar juga mampu menyedot perhatian publik. Ganjar menarik karena tampilannya yang charming. Ia sederhana, merakyat, dan mampu berbicara dengan bahasa rakyat.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi