Sabtu, 30 Mei 2026, pukul : 07:41 WIB
Surabaya
--°C

Dialektika Digital

KEMPALAN: Ada dua mantra yang selalu diagungkan oleh kapitalisme global untuk membela perdagangan dan persaingan bebas internasional. Satu adanya ‘’the invisible hand’’ tangan gaib. Kedua, adanya ‘’level playing field’’ lapangan pertandingan yang rata dan sejajar yang memungkinkan terjadinya persaingan terbuka yang jujur.

Tapi dua mantra itu hanya berlaku bagi Amerika saja, atau hanya menguntungkan Amerika saja. Ketika dua mantra itu menguntungkan maka Amerika memakainya. Tapi, ketika mantra itu tidak menguntungkan maka Amerika menelantarkannya.

Perdagagan internasional di era kapitalisme global sekarang ini menunjukkan tidak adanya tangan gaib dan tidak adanya lapangan yang rata. Tangan gaib hanya berlaku untuk keuntungan Amerika dan lapangan yang rata hanya diperuntukkan bagi Amerika.

Ketika dunia mengalami transformasi digital dan seluruh dunia terkoneksi menjadi satu kesatuan global, seharusnya lapangan permainan menjadi lapang dan rata. Tetapi, kenyataannya, lapangan pertandingan masih tetap tidak rata. Wasit pertandingan adalah Amerika, dan pembuat ‘’rule of the game’’ adalah Amerika.

BACA JUGA  Mengapa NPD Tak Suka di Rumah ?

Amerika melahirkan perusahaan platform digital yang menguasai ekonomi digital dunia. The invisible hand yang seharusnya menjadi wasit yang adil malah menjadi wasit yang berat sebelah untuk keuntungan platform digital.

BACA JUGA: Harga Mati

Sebuah studi komprehensif dilakukan oleh Agus Sudibyo, anggota Dewan Pers mengenai ketimpangan relasi kuasa perusahaan media dengan platform digital. Buku ‘’Dialektika Digital, Kolaborasi dan Kompetisi antara Media Massa dan Platform Digital’’ (2022) mengulik mengenai relasi kuasa yang merugikan perusahaan media itu.

Kemunculan teknologi digital menjadi disrupsi besar terhadap praktik manajemen media yang selama puluhan tahun sudah mapan. Semua media besar di seluruh dunia—termasuk raksasa media seperti The Washington Post, The New York Time, CNN, The Guardian—harus membongkar praktik manajemennya untuk menghadapi disrupsi digital.

BACA JUGA  Adopsi Sukses IVCA Rally 2026, Bumi Jenggolo III Siap Guncang Sidoarjo dengan 10 Ribu Onthelis Mancanegara

Platform digital menjadi berkah dan sekaligus bencana dari perusahaan media yang sudah menikmati status quo puluhan atau bahkan ratusan tahun. Kemunculan platform digital merevolusi praktik distribusi dan sirkulasi media, termasuk praktik pencarian iklan yang selama ini menjadi jantung kehidupan media.

BACA JUGA: Sang Kaisar

Ada tiga platform digital yang menjadi raja dalam bisnis digital global sekarang ini. Mereka adalah Facebook yang menguasai jagat media sosial, Google yang menjadi raja mesin pencari atau search engine, dan Amazon yang mendominasi dunia e-commerce. Trio FGA (Facebook, Google, Amzon) itu bukan perusahaan media, tetapi memperoleh keuntungan triliunan dolar dari bisnis media.

Tiga perusahaan trans-nasional itu mengklaim sebagai perusahaan teknologi dan tidak mau disebut sebagai perusahaan media dengan segala konsekuensi profesional dan etiknya. Padahal dalam praktiknya ketiga perusahaan itu telah menjarah lahan garapan media konvensional.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.